Selasa, 12 Juli 2016

Matematika & IAD BAB 6

BAB 6
Geografi dalam Kehidupan manusia

3.3. Geografi Kehidupan
Indonesia merupakan negara mega biodiversitas  ke-3 di dunia setelah Brazil dan Zaire (RI, 1994). Negara mega biodiversitas adalah predikat yang diberikan kepada suatu negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.  Dengan predikat ini Indonesia telah diakui dunia akan keanekaragaman hayatinya yang tinggi. Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga (27000 jenis), 12% mamalia (515 jenis), 16% satwa amphibi (217 jenis) dan 17% aves (1539 jenis) (Marthen, 2003). Hal ini memungkinkan Indonesia memiliki banyak satwa endemik.
Penyebaran fauna di Indonesia termasuk fauna endemik tidak lepas dari sejarah penyebaran fauna di dunia berdasarkan karakteristiknya. Ilmu yang mempelajari penyebaran ini disebut zoogeografi (Nur, 2007). Zoogeografi di dunia dibagi kedalam beberapa wilayah. Indonesia memiliki 2 wilayah biogeografi (Zoogeografi, Zoogeografi adalah ilmu yang mempelajari penyebaran fauna di muka bumi ini dan Biogeografi) yaitu kawasan oriental dan wilayah Australia dengan transisi diantaranya yaitu daerah Wallacea (Mittermeir dkk, 1997). Sehingga secara kesluruhan ndonesia memiliki tiga wilayah persebaran fauna. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia dapat disebut sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. .
Dua pusat utama keanekaragaman hayati di Indonesia adalah Kalimantan dan Papua. Kalimantan sangat kaya akan satwa burung dan rnamalia. Walaupun hanya menutupi kurang dari 0.2% perrnukaan humi, yakni dengan luas 539.460 km persegi (pulau terbesar ketiga di dunia), satu dari dua puluh burung dan mamalia yang telah diketahui dapat dijumpai di Kalimantan. Fakta-fakta ini membuat Kalirnantan sebagai salah satu kawasan penting di dunia dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Begitu juga dengan hewan endemik Kalimantan yang harus terus dilestarikan agar tidak terjadi kepunahan.
                 
PEMBAGIAN WILAYAH UNTUK PENYEBARAN BINATANG
Persebaran hewan di muka bumi ini didasarkan oleh faktor fisiografik, klimatik dan biotik yang berbeda antara wilayah yang satu dengan lainnya, sehingga menyebabkan perbedaan jenis hewan di suatu wilayah. Ilmu yang mempelajari persebaran fauna di muka bumi ini disebut Zoogeografi. Seperti diketahui setiap spesies hewan mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mengatasi hambatan-hambatan. Jika tidak ada hambatan-hambatan, maka persebaran hewan akan berjalan terus. Misalnya hewan yang biasa hidup di pegunungan akan sulit hidup di dataran rendah atau hewan yang biasa hidup di daerah panas akan sulit hidup di daerah yang beriklim dingin atau kurang curah hujannya.
Di samping itu, faktor sejarah geologi juga mempengaruhi persebaran hewan di wilayah tertentu karena wilayah tersebut pernah menjadi satu. Namun hewan berbeda dengan tumbuhan yang bersifat pasif, bila habitatnya dirasakan sudah tidak cocok seringkali mereka secara massal mengadakan migrasi ke tempat lainnya. Oleh karena itu, pola persebaran fauna tidak setegas persebaran flora. Adakalanya hewan khas di suatu wilayah juga terdapat di wilayah lainnya.
Pada tahun 1876 Alfred Russel Wallace membagi wilayah persebaran fauna atas delapan wilayah yaitu Ethiopian, Palearktik, Oriental, Australian, Neotropikal dan Neartik, Oceanik dan Antartik.

1. Daerah Tropik
Beriklim panas, matahari bersinar sepanjang tahun, perubahan suhu antara Januari hingga Desember sangatlah sedikit, curah hujan sangat tinggi. Terdapat ribuan spesies tumbuhan yang dapat membenntuk suatu hutan tropik dengan ciri-ciri sebagai berikut :
  • Pohon-pohonnya besar dan tinggi, dapat mencapai 20-40 m
  • Cabang pohon panjang dan banyak, membentuk naungan pohon yang luas
  • Di dalam naungan pohon hidup tumbuhan yang menempel (epifit) yang melakukan adaptasi dengan lingkungan kering karena hidup dari air dan curah hujan yang dikandung cabang atau dahan tempat menempel
  • Tanah dibawah naungan hampir tidak pernah mendapatkan sinar matahari. Hal ini menyebabkan tanaman merambat, menjalar ke atas. Misalnya rotan
  • Di lapisan terbawah, hidup lumut dan rumput sebagai makanan hewan kecil.
Didalam hutan tropis yang lebat, terdapat beraneka ragam binatang, mulai dari bakteri pembusuk dalam tanah, burung, kera, sampai harimau dan binatang besar lainnya. Tumbuhan di daerah ini memiliki ciri, yaitu berukuran kecil, tumbuh ketika hujan turun, berbunga dan berbiji dalam ukuran kecil dan tahan lama, tumbuh pada musim penghujan tahun berikutnya.
Di pedalaman daerah tropik lain terdapat beberapa gurun pasir yang kondisinya jauh berbeda dengan lingkungan hutan tropik. Ciri lingkungan abiotiknya : suhu udara pada siang hari sangat tinggi, sekitar 50oC sedangkan pada malam hari dapat mencapai 0oC. Kelembapan udara sangat rendah, penguapan air sangat tinggi, yang berakibat pada tanahnya yang tandus. Dengan kondisi bioma seperti ini maka hanya sedikit jumlah spesies tanaman yang mampu tumbuh.

2. Daerah Sub-Tropik
Disebut iklim sedang. Terdapat 4 musim : musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi.    Curah hujannya sepanjang tahun, sekitar 75-100cm/tahun. Karena curah hujan yang sedikit, menyebabkan tumbuhnya bermacam-macam rumput. Tanahnya banyak mengandung humus, karena daun dan rumput cepat mati dan membusuk ketika musim gugur.
Ciri Biomanya : Hutannya merupakan hutan luruh, Gugurnya daun merupakan persiapan datangnya musim dingin dan bersemi kembali setelah musim dingin selesai. Pada musim dingin terdapat salju, jumlah tumbuhan jauh lebih sedikit, dan jarak antar pohon tidak rapat dan tidak ada perdu di bawahnya.

3. Daerah Kutub
Di daerah ini jika pada musim panas, matahari bersinar lebih dari 12 jam sehari. Tapi pada musim dingin, matahari kurang dari 12 jam sehari. Bioma yang khas di daerah beriklim dingin adalah hutan taiga yang pohonnya terdisi dari satu spesies (homogen). Pohon khasnya adalah konifer, dan hewan yang hidup disekitar hutan taiga seperti moose, beruang hitam, dan marten.
Di belahan utara, terdapat tundra. Daerah ini mendapat sedikit energi radiasi matahari. perbedaan siang dan malam pada musim panas dan dingin sangatlah besar. Rumput tumbuh menutupi tanah, tumbuhan berbiji tumbuh kerdil. Binatang khas daerah ini adalah rendeer, beruang putih,  musk axen.

Persebaran Fauna di dunia
Ilmu yang mempelajari persebaran fauna di muka bumi ini disebut Zoogeografi. Persebaran hewan di muka bumi ini ada penghalangnya sehingga terjadi pembagian-pembagian. Andaikan tidak ada hambatan-hambatan maka persebaran hewan akan berjalan terus. Kesamaan-kesamaan karakteristik fauna ini salah faktor penyebabnya yaitu bahwa menurut sejarah geologi dunia ini berasal dari satu benua atau benuanya mnyatu seluruhnya. Benua ini disebut pangea atau benua tertua, yang kemudian pecah.. Oleh karena itu pola persebaran fauna tidak setegas persebaran flora. Adakalanya hewan khas di suatu wilayah juga terdapat di wilayah lainnya.
Pada tahun 1876 Alfred Russel Wallace membagi wilayah persebaran fauna atas 6 wilayah yaitu:
1. Wilayah Ethiopian
Wilayah persebarannya meliputi benua Afrika, dari sebelah Selatan Gurun Sahara, Madagaskar dan Selatan Saudi Arabia. Hewan yang khas daerah ini adalah gajah Afrika, badak Afrika, gorila, baboon, simpanse, jerapah. Mamalia padang rumput seperti zebra, antilop, kijang, singa, jerapah, harimau, dan mamalia pemakan serangga yaitu trenggiling. Mamalia endemik di wilayah ini adalah kuda Nil yang hanya terdapat di sungai Nil, Mesir.
Namun di Madagaskar juga terdapat kuda Nil namun lebih kecil. Menurut sejarah pulau Madagaskar pernah bersatu dengan Afrika. Wilayah Ethiopian juga memiliki hewan yang hampir sama dengan di wilayah Oriental seperti golongan kucing, bajing, tikus, babi hutan, kelelawar, dan anjing.
 2. Wilayah Palearktik
Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Uni Soviet, daerah dekat Kutub Utara sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang, Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi lingkungan wilayah ini bervariasi, baik perbedaan suhu, curah hujan maupun kondisi permukaan tanahnya, menyebabkan jenis faunanya juga bervariasi. Beberapa jenis fauna Paleartik yang tetap bertahan di lingkungan aslinya yaitu panda di Cina, unta di Afrika Utara, binatang kutub seperti rusa Kutub, kucing Kutub, dan beruang Kutub. Binatang-binatang yang berasal dari wilayah ini antara lain kelinci, sejenis tikus, berbagai spesies anjing, kelelawar. Bajing, dan kijang telah menyebar ke wilayah lainnya.
3. Wilayah Nearktik
Wilayah persebarannya meliputi kawasan Amerika Serikat, Amerika Utara dekat Kutub Utara, dan Greenland. Hewan khas daerah ini adalah ayam kalkun liar, tikus berkantung di Gurun Pasifik Timur, bison, muskox, caribau, domba gunung. Di daerah ini juga terdapat beberapa jenis hewan yang ada di wilayah Palearktik seperti kelinci, kelelawar, anjing, kucing, dan bajing.
4. Wilayah Neotropikal
Wilayah persebarannya meliputi Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan sebagian besar Meksiko. Iklim di wilayah ini sebagian besar beriklim tropik dan bagian Selatan beriklim sedang. Hewan endemiknya adalah ikan piranha dan belut listrik di sungai Amazon, lama (sejenis unta) di padang pasir atacama (Peru), tapir, dan kera hidung merah. Wilayah Neotropikal sangat terkenal sebagai wilayah fauna vertebrata karena jenisnya yang sangat beranekaragam dan spesifik, seperti beberapa spesies monyet, trenggiling, beberapa jenis reptil seperti buaya, ular, kadal, beberapa spesies burung, dan ada sejenis kelelawar penghisap darah.
5. Wilayah Oriental
Fauna di wilayah ini tersebar di kawasan Asia terutama Asia Selatan dan Asia Tenggara. Fauna Indonesia yang masuk wilayah ini hanya di Indonesia bagian Barat. Hewan yang khas wilayah ini adalah harimau, orang utan, gibbon, rusa, banteng, dan badak bercula satu. Hewan lainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilop, berbagai jenis reptil, dan ikan. Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian antara lain kucing, anjing, monyet, gajah, badak, dan harimau, menunjukkan bahwa Asia Selatan dan Asia Tenggara pernah menjadi satu daratan dengan Afrika.
6. Wilayah Australian
Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, dan pulau-pulau sekitarnya. Beberapa hewan khas wilayah ini adalah kanguru, kiwi, koala, cocor bebek (sejenis mamalia bertelur). Terdapat beberapa jenis burung yang khas wilayah ini seperti burung cendrawasih, burung kasuari, burung kakaktua, dan betet. Kelompok reptil antara lain buaya, kura-kura, ular piton.
7. Wilayah Oceanik
Fauna di wilayah ini tersebar di kawasan kepulauan di Samudra Pasifik. Wilayah ini merupakan pengembangan dari wilayah Australian daratan, dengan spesifikasi fauna tertentu. Oleh karena itu jenis faunanya hampir sama dengan wilayah Australian.
8. Wilayah Antartik
Seperti namanya, maka wilayahnya mencakup kawasan di Kutub Selatan. Jenis fauna yang hidup di daerah ini memiliki bulu lebat dan mampu menahan dingin, misalnya rusa kutub, burung pinguin, anjing laut, kelinci kutub, dan beruang kutub.

Persebaran fauna di Indonesia Tiga wilayah persebaran fauna di Kepulauan Indonesia, yaitu:
1. Sundaic
Pulau  yang termasuk kedalam wilayah ini adalah pulau  Kalimantan, pulau jawa, pulau Sumatera, pulau Bali. Fauna sundaic memiliki kemiripan dengan fauna Asia. Fauna sundaic antara lain adalah: gajah India di Sumatera, harimau terdapat di Jawa, Sumatera, Bali, badak bercula dua di Sumatera dan Kalimantan, badak bercula satu di Jawa, raliahan antara fauna Asia dengan fauna Australia. Orang utan di Sumatera dan Kalimantan, Kancil di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan beruang madu di Sumatera dan Kalimantan. Di Nusa Tenggara terdapat sejenis cecak terbang yang termasuk binatang Asia. Fauna endemik di daerah ini adalah, badak bercula satu di Ujung kulon Jawa Barat, Beo Nias di Kabupaten Nias, Bekantan/Kera Belanda dan Orang Utan di Kalimantan.
2. Wallacea
Fauna Wallacea ( peralihan) tersebar di Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Daerah fauna Peralihan dibatasi oleh garis Wallace yang membatasi dengan fauna di dataran Sunda dan garis Weber yang membatasi dengan fauna di dataran Sahul. Fauna pada wilayah ini memiliki kemiripan peraliahan antara fauna Asia dengan fauna benua Auatralia. Contoh faunanya antara lain: babi rusa, anoa, kuskus, biawak, katak terbang. Katak terbang ini juga termasuk fauna Asiatis. Di daerah fauna peralihan juga terdapat fauna endemik seperti: Komo di P.Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, tapir (kerbau liar), burung Kasuari di Pulau Morotai, Obi, Halmahera dan Bacan.
3. Australis
Fauna yang terdapat di wilayah ini terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya. Binatang-binatangnya mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benua Australia. Daerah ini juga disebut fauna dataran Sahul, contohnya antara lain: kanguru, kasuari, kuskus, burung cendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya, reptil, dan amphibi.

Fauna Endemik Kalimantan
Kalimantan adalah pulau ke-3 terbesar di dunia . Hal yang menarik dari kalimantan adalah di Kalimantan tidak terdapat harimau, padahal Kalimantan masuk dalam wilayah Sundaic yang memiliki ciri fauna mirip dengan Fauna Asia. Karena luasnya Kaliamantan, sesuai dengan  teori biogeografi pulau yang menyatakan bahwa jumlah spesies yang terdapat ada suatu pulau akan ditentukan oleh luas pulau (BAPPENAS, 2003). Kalimantan pun terdapat fauna endemik yang cukup banyak.
Menurut  Undang-Undang No.5 tahun 1990 pasal 20 ayat (2), yang dimaksud satwa endemik  adalah satwa yang terbatas penyebarannya (Pamulardi, 1995).  Hewan endemik Indonesia adalah hewan-hewan yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat lain. Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi. (Mittermeier dkk, 1997). Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenis mamalia, 397 jenis burung, lebih dari 150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies ampibi yang tercatat endemik di Indonesia (Martha, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yanto Santosa dkk tahun 2008,  mahasiswa Fahutan, menyatakan bahwa terdapat lima jenis mamalia dari lima tipe habita yang merupakan  satwa endemik Kalimantan yang terdapat di T.N. Tanjung Putting  yaitu bekantan (Nasalis larvatus), kelasi (Presbytis rubicunda), kijang kuning (Muntiacus atherodes), owa kelawat (Hylobates agilis) dan nying-nying besar (Chiporodomys major). Tambahan hewan endemik Kalimantan lainnya adalah:
Bajing Tanah (Lariscus hosei) ,Bajing Telinga Botol (Callosciurrus adamsi) Burung Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri). Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) Burung Tokhtor Kalimantan (Carpococcyx radiceus) , Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus borneensis). Katak Tanpa Paru-Paru (Barbourula kalimantanensis) , Kera Belanda (Nasalis larvatus), Kucing Merah (Felis badia), Owa-owa (Hyllobates muelleri),  Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Landak Kalimatan (Thecurus crassispinis), Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata), Lutung Merah (Presbytis rubicunda), Macan Dahan (Neofelis diardi) (Fajar,2010).
Banyaknya jenis hewan endemik Kalimantan harus diimbangi dengan upaya plestarian yang nyata, karena ijka hewan endemik tersebut di eksplotasi oleh oknum yang hanya memikirkan individu diriya sendiri maka hanyalah sebuah mimpi anakcucu kita dapat melihat banyaknya hewan endemik yang Indonesia, khususnya Kalimantan miliki. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan adalah mendirikan pusat rehabilitasi hutan untuk penyelamatan satwa khas Indonesia.( Dephut RI, 2006). Selain itu  dibutuhkan pula perangkat hukum yang tegas untuk menyikapi segala bentuk kejahatan yang menggangu ekosistem dan habitat hewan endemik  tersebut. Kalimantan memiliki hewan endemik yang cukup banyak. Hewan endemik ini harus dilestarikan dengan pemgelolaan dan  pengawasan yang baik, serta dukungan dari seluruh pihak dan lapisan masyarakat.
             
Daftar Pustaka:
BAPPENAS. 2003. Indonesia Bioiversity Strategy and Action plan 2003-2020.Jakarta.
Marthen, T.L. dkk . 2003. Fauna Endemik Sulawesi: Permasalahan dan Usaha Konevasi.
Maryanto, Ibnu, Woro A. Noerdjito. 2006.  Flora Fauna Jawa Barat. Bogor: LIPI Press.
Mittermeier,R.A.,P.Roblesgil & C.O. Mittermeier 1997. Megadiversity Earth Biologically Wealthiest Nations. Quebecor Printing In. Canada. 17-97.
Pamulardi, Bambang. 1995. Hukum Kehutanan dan Pembangunan Bidang             Kehutanan.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
RI. 1994. Rencana Pembangunan Lima Tahun VI. 9/95-1998/99.Buku III RI, Jakarta.
Santosa, Yanto, Eko Prasetyo Ramadahan, Dede Aulia Rahman. 2008. Studi Keanekaraganman Mamala pada Beberapa Tipe Habitat di Stasiun Ambung  Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah. Media Konservasi vol. B No. 3 Desember 2008: 1-7.
Wadojo, Siswanto.2006.  Kehutanan Indonesia 2005-2006. Jakarta: Dephut RI
Martha, Fajar. 2010. Hewan Endemik Indonesia. [terhubung berkala]: http://biolgipedia.       blogsot.com [15 September 2011]
Nur, Fajar Ichwan. 2007. Biogeografi dan Persebaran hewan di Muka Bumi.          [terhubung berkala]: http://fajarichwannoor.wordpress.co m / [15 September         2011].
[Anonim]. 2009. Jenis dan Persebaran Fauna di Indonesia dan Dunia. [terhubung     berkala]:http://www.edukasi.net  [15 September 2011].
[Anonim].  2008.  Persebaran Flora & Fauna/ Hewan & Tumbuhan di Indonesia-Ilmu Geografi.[terhubung berkala]: http://www.organisasi.org (15 September 2011).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar