BAB 6
Geografi dalam Kehidupan manusia
3.3.
Geografi Kehidupan
Indonesia merupakan negara mega biodiversitas
ke-3 di dunia setelah Brazil dan Zaire (RI, 1994). Negara mega biodiversitas
adalah predikat yang diberikan kepada suatu negara dengan keanekaragaman hayati
yang tinggi. Dengan predikat ini Indonesia telah diakui dunia akan
keanekaragaman hayatinya yang tinggi. Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga
(27000 jenis), 12% mamalia (515 jenis), 16% satwa amphibi (217 jenis) dan 17%
aves (1539 jenis) (Marthen, 2003). Hal ini memungkinkan Indonesia memiliki
banyak satwa endemik.
Penyebaran fauna di Indonesia termasuk fauna endemik
tidak lepas dari sejarah penyebaran fauna di dunia berdasarkan
karakteristiknya. Ilmu yang mempelajari penyebaran ini disebut zoogeografi (Nur,
2007). Zoogeografi di dunia dibagi kedalam beberapa wilayah. Indonesia memiliki
2 wilayah biogeografi (Zoogeografi, Zoogeografi adalah ilmu yang mempelajari
penyebaran fauna di muka bumi ini dan Biogeografi) yaitu kawasan oriental dan
wilayah Australia dengan transisi diantaranya yaitu daerah Wallacea (Mittermeir
dkk, 1997). Sehingga secara kesluruhan ndonesia memiliki tiga wilayah
persebaran fauna. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia dapat
disebut sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. .
Dua pusat utama keanekaragaman hayati di Indonesia
adalah Kalimantan dan Papua. Kalimantan sangat kaya akan satwa burung dan
rnamalia. Walaupun hanya menutupi kurang dari 0.2% perrnukaan humi, yakni
dengan luas 539.460 km persegi (pulau terbesar ketiga di dunia), satu dari dua
puluh burung dan mamalia yang telah diketahui dapat dijumpai di Kalimantan.
Fakta-fakta ini membuat Kalirnantan sebagai salah satu kawasan penting di dunia
dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Begitu juga dengan hewan endemik
Kalimantan yang harus terus dilestarikan agar tidak terjadi kepunahan.
PEMBAGIAN WILAYAH UNTUK
PENYEBARAN BINATANG
Persebaran hewan di muka bumi
ini didasarkan oleh faktor fisiografik, klimatik dan biotik yang berbeda antara
wilayah yang satu dengan lainnya, sehingga menyebabkan perbedaan jenis hewan di
suatu wilayah. Ilmu yang mempelajari persebaran fauna di muka bumi ini disebut
Zoogeografi. Seperti diketahui setiap spesies hewan mempunyai kemampuan yang
berbeda dalam mengatasi hambatan-hambatan. Jika tidak ada hambatan-hambatan,
maka persebaran hewan akan berjalan terus. Misalnya hewan yang biasa hidup di
pegunungan akan sulit hidup di dataran rendah atau hewan yang biasa hidup di
daerah panas akan sulit hidup di daerah yang beriklim dingin atau kurang curah
hujannya.
Di samping itu, faktor sejarah
geologi juga mempengaruhi persebaran hewan di wilayah tertentu karena wilayah
tersebut pernah menjadi satu. Namun hewan berbeda dengan tumbuhan yang bersifat
pasif, bila habitatnya dirasakan sudah tidak cocok seringkali mereka secara
massal mengadakan migrasi ke tempat lainnya. Oleh karena itu, pola persebaran
fauna tidak setegas persebaran flora. Adakalanya hewan khas di suatu wilayah
juga terdapat di wilayah lainnya.
Pada tahun 1876 Alfred Russel
Wallace membagi wilayah persebaran fauna atas delapan wilayah yaitu Ethiopian,
Palearktik, Oriental, Australian, Neotropikal dan Neartik, Oceanik dan
Antartik.
1. Daerah Tropik
Beriklim panas, matahari bersinar sepanjang tahun,
perubahan suhu antara Januari hingga Desember sangatlah sedikit, curah hujan
sangat tinggi. Terdapat ribuan spesies tumbuhan yang dapat membenntuk suatu
hutan tropik dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- Pohon-pohonnya besar dan tinggi, dapat mencapai
20-40 m
- Cabang pohon panjang dan banyak, membentuk
naungan pohon yang luas
- Di dalam naungan pohon hidup tumbuhan yang
menempel (epifit) yang melakukan adaptasi dengan lingkungan kering karena
hidup dari air dan curah hujan yang dikandung cabang atau dahan tempat
menempel
- Tanah dibawah naungan hampir tidak pernah
mendapatkan sinar matahari. Hal ini menyebabkan tanaman merambat, menjalar
ke atas. Misalnya rotan
- Di lapisan terbawah, hidup lumut dan rumput
sebagai makanan hewan kecil.
Didalam hutan tropis yang lebat, terdapat beraneka
ragam binatang, mulai dari bakteri pembusuk dalam tanah, burung, kera,
sampai harimau dan binatang besar lainnya. Tumbuhan di daerah ini memiliki
ciri, yaitu berukuran kecil, tumbuh ketika hujan turun, berbunga dan berbiji
dalam ukuran kecil dan tahan lama, tumbuh pada musim penghujan tahun
berikutnya.
Di pedalaman daerah tropik lain terdapat beberapa
gurun pasir yang kondisinya jauh berbeda dengan lingkungan hutan tropik. Ciri
lingkungan abiotiknya : suhu udara pada siang hari sangat tinggi, sekitar
50oC sedangkan pada malam hari dapat mencapai 0oC.
Kelembapan udara sangat rendah, penguapan air sangat tinggi, yang berakibat
pada tanahnya yang tandus. Dengan kondisi bioma seperti ini maka hanya sedikit
jumlah spesies tanaman yang mampu tumbuh.
2. Daerah Sub-Tropik
Disebut iklim sedang. Terdapat 4 musim : musim panas,
musim gugur, musim dingin dan musim semi. Curah hujannya sepanjang
tahun, sekitar 75-100cm/tahun. Karena curah hujan yang sedikit, menyebabkan
tumbuhnya bermacam-macam rumput. Tanahnya banyak mengandung humus, karena daun
dan rumput cepat mati dan membusuk ketika musim gugur.
Ciri Biomanya : Hutannya merupakan hutan luruh,
Gugurnya daun merupakan persiapan datangnya musim dingin dan bersemi kembali
setelah musim dingin selesai. Pada musim dingin terdapat salju, jumlah tumbuhan
jauh lebih sedikit, dan jarak antar pohon tidak rapat dan tidak ada perdu di
bawahnya.
3. Daerah Kutub
Di daerah ini jika pada musim panas, matahari bersinar
lebih dari 12 jam sehari. Tapi pada musim dingin, matahari kurang dari 12 jam
sehari. Bioma yang khas di daerah beriklim dingin adalah hutan taiga yang
pohonnya terdisi dari satu spesies (homogen). Pohon khasnya adalah konifer, dan
hewan yang hidup disekitar hutan taiga seperti moose, beruang hitam, dan
marten.
Di belahan utara, terdapat tundra. Daerah ini mendapat
sedikit energi radiasi matahari. perbedaan siang dan malam pada musim panas dan
dingin sangatlah besar. Rumput tumbuh menutupi tanah, tumbuhan berbiji tumbuh
kerdil. Binatang khas daerah ini adalah rendeer, beruang putih, musk
axen.
Persebaran
Fauna di dunia
Ilmu yang mempelajari persebaran fauna di muka bumi
ini disebut Zoogeografi. Persebaran hewan di muka bumi ini ada penghalangnya
sehingga terjadi pembagian-pembagian. Andaikan tidak ada hambatan-hambatan maka
persebaran hewan akan berjalan terus. Kesamaan-kesamaan karakteristik fauna ini
salah faktor penyebabnya yaitu bahwa menurut sejarah geologi dunia ini berasal
dari satu benua atau benuanya mnyatu seluruhnya. Benua ini disebut pangea atau
benua tertua, yang kemudian pecah.. Oleh karena itu pola persebaran fauna tidak
setegas persebaran flora. Adakalanya hewan khas di suatu wilayah juga terdapat
di wilayah lainnya.
Pada tahun 1876 Alfred Russel Wallace membagi wilayah
persebaran fauna atas 6 wilayah yaitu:
1. Wilayah Ethiopian
Wilayah persebarannya meliputi
benua Afrika, dari sebelah Selatan Gurun Sahara, Madagaskar dan Selatan Saudi
Arabia. Hewan yang khas daerah ini adalah gajah Afrika, badak Afrika, gorila,
baboon, simpanse, jerapah. Mamalia padang rumput seperti zebra, antilop,
kijang, singa, jerapah, harimau, dan mamalia pemakan serangga yaitu
trenggiling. Mamalia endemik di wilayah ini adalah kuda Nil yang hanya terdapat
di sungai Nil, Mesir.
Namun di Madagaskar juga
terdapat kuda Nil namun lebih kecil. Menurut sejarah pulau Madagaskar pernah
bersatu dengan Afrika. Wilayah Ethiopian juga memiliki hewan yang hampir sama
dengan di wilayah Oriental seperti golongan kucing, bajing, tikus, babi hutan,
kelelawar, dan anjing.
2. Wilayah
Palearktik
Wilayah persebarannya sangat
luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Uni Soviet, daerah dekat Kutub Utara
sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang,
Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi
lingkungan wilayah ini bervariasi, baik perbedaan suhu, curah hujan maupun
kondisi permukaan tanahnya, menyebabkan jenis faunanya juga bervariasi.
Beberapa jenis fauna Paleartik yang tetap bertahan di lingkungan aslinya yaitu
panda di Cina, unta di Afrika Utara, binatang kutub seperti rusa Kutub, kucing
Kutub, dan beruang Kutub. Binatang-binatang yang berasal dari wilayah ini
antara lain kelinci, sejenis tikus, berbagai spesies anjing, kelelawar. Bajing,
dan kijang telah menyebar ke wilayah lainnya.
3. Wilayah Nearktik
Wilayah persebarannya meliputi
kawasan Amerika Serikat, Amerika Utara dekat Kutub Utara, dan Greenland. Hewan
khas daerah ini adalah ayam kalkun liar, tikus berkantung di Gurun Pasifik
Timur, bison, muskox, caribau, domba gunung. Di daerah ini juga terdapat
beberapa jenis hewan yang ada di wilayah Palearktik seperti kelinci, kelelawar,
anjing, kucing, dan bajing.
4. Wilayah Neotropikal
Wilayah persebarannya meliputi
Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan sebagian besar Meksiko. Iklim di wilayah
ini sebagian besar beriklim tropik dan bagian Selatan beriklim sedang. Hewan
endemiknya adalah ikan piranha dan belut listrik di sungai Amazon, lama
(sejenis unta) di padang pasir atacama (Peru), tapir, dan kera hidung merah.
Wilayah Neotropikal sangat terkenal sebagai wilayah fauna vertebrata karena
jenisnya yang sangat beranekaragam dan spesifik, seperti beberapa spesies
monyet, trenggiling, beberapa jenis reptil seperti buaya, ular, kadal, beberapa
spesies burung, dan ada sejenis kelelawar penghisap darah.
5. Wilayah Oriental
Fauna di wilayah ini tersebar di
kawasan Asia terutama Asia Selatan dan Asia Tenggara. Fauna Indonesia yang
masuk wilayah ini hanya di Indonesia bagian Barat. Hewan yang khas wilayah ini
adalah harimau, orang utan, gibbon, rusa, banteng, dan badak bercula satu.
Hewan lainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilop, berbagai jenis
reptil, dan ikan. Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian
antara lain kucing, anjing, monyet, gajah, badak, dan harimau, menunjukkan
bahwa Asia Selatan dan Asia Tenggara pernah menjadi satu daratan dengan Afrika.
6. Wilayah Australian
Wilayah ini mencakup kawasan
Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, dan pulau-pulau sekitarnya. Beberapa
hewan khas wilayah ini adalah kanguru, kiwi, koala, cocor bebek (sejenis
mamalia bertelur). Terdapat beberapa jenis burung yang khas wilayah ini seperti
burung cendrawasih, burung kasuari, burung kakaktua, dan betet. Kelompok reptil
antara lain buaya, kura-kura, ular piton.
7. Wilayah Oceanik
Fauna di wilayah ini tersebar di
kawasan kepulauan di Samudra Pasifik. Wilayah ini merupakan pengembangan dari
wilayah Australian daratan, dengan spesifikasi fauna tertentu. Oleh karena itu
jenis faunanya hampir sama dengan wilayah Australian.
8. Wilayah Antartik
Seperti namanya, maka wilayahnya
mencakup kawasan di Kutub Selatan. Jenis fauna yang hidup di daerah ini
memiliki bulu lebat dan mampu menahan dingin, misalnya rusa kutub, burung
pinguin, anjing laut, kelinci kutub, dan beruang kutub.
Persebaran fauna di Indonesia
Tiga wilayah persebaran fauna di Kepulauan Indonesia, yaitu:
1. Sundaic
Pulau yang termasuk
kedalam wilayah ini adalah pulau Kalimantan, pulau jawa, pulau Sumatera,
pulau Bali. Fauna sundaic memiliki kemiripan dengan fauna Asia. Fauna sundaic
antara lain adalah: gajah India di Sumatera, harimau terdapat di Jawa,
Sumatera, Bali, badak bercula dua di Sumatera dan Kalimantan, badak bercula
satu di Jawa, raliahan antara fauna Asia dengan fauna Australia. Orang utan di
Sumatera dan Kalimantan, Kancil di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, dan beruang
madu di Sumatera dan Kalimantan. Di Nusa Tenggara terdapat sejenis cecak
terbang yang termasuk binatang Asia. Fauna endemik di daerah ini adalah, badak
bercula satu di Ujung kulon Jawa Barat, Beo Nias di Kabupaten Nias,
Bekantan/Kera Belanda dan Orang Utan di Kalimantan.
2. Wallacea
Fauna Wallacea ( peralihan)
tersebar di Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Daerah fauna Peralihan
dibatasi oleh garis Wallace yang membatasi dengan fauna di dataran Sunda dan
garis Weber yang membatasi dengan fauna di dataran Sahul. Fauna pada wilayah
ini memiliki kemiripan peraliahan antara fauna Asia dengan fauna benua
Auatralia. Contoh faunanya antara lain: babi rusa, anoa, kuskus, biawak, katak
terbang. Katak terbang ini juga termasuk fauna Asiatis. Di daerah fauna
peralihan juga terdapat fauna endemik seperti: Komo di P.Komodo dan pulau-pulau
sekitarnya, tapir (kerbau liar), burung Kasuari di Pulau Morotai, Obi,
Halmahera dan Bacan.
3. Australis
Fauna yang terdapat di wilayah
ini terdapat di Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya. Binatang-binatangnya
mempunyai kesamaan dengan binatang-binatang di benua Australia. Daerah ini juga
disebut fauna dataran Sahul, contohnya antara lain: kanguru, kasuari, kuskus,
burung cendrawasih dan berbagai jenis burung lainnya, reptil, dan amphibi.
Fauna Endemik Kalimantan
Kalimantan adalah pulau ke-3 terbesar di dunia . Hal
yang menarik dari kalimantan adalah di Kalimantan tidak terdapat harimau,
padahal Kalimantan masuk dalam wilayah Sundaic yang memiliki ciri fauna mirip
dengan Fauna Asia. Karena luasnya Kaliamantan, sesuai dengan teori
biogeografi pulau yang menyatakan bahwa jumlah spesies yang terdapat ada suatu
pulau akan ditentukan oleh luas pulau (BAPPENAS, 2003). Kalimantan pun terdapat
fauna endemik yang cukup banyak.
Menurut Undang-Undang No.5 tahun 1990 pasal 20
ayat (2), yang dimaksud satwa endemik adalah satwa yang terbatas
penyebarannya (Pamulardi, 1995). Hewan endemik Indonesia adalah
hewan-hewan yang hanya ditemukan di Indonesia dan tidak ditemukan di tempat
lain. Indonesia adalah negara dengan endemisme (tingkat endemik) yang tinggi.
(Mittermeier dkk, 1997). Diperkirakan terdapat lebih dari 165 jenis mamalia,
397 jenis burung, lebih dari 150 reptilia, dan lebih dari 100 spesies ampibi
yang tercatat endemik di Indonesia (Martha, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yanto
Santosa dkk tahun 2008, mahasiswa Fahutan, menyatakan bahwa
terdapat lima jenis mamalia dari lima tipe habita yang merupakan satwa
endemik Kalimantan yang terdapat di T.N. Tanjung Putting yaitu bekantan (Nasalis
larvatus), kelasi (Presbytis rubicunda), kijang kuning (Muntiacus
atherodes), owa kelawat (Hylobates agilis) dan nying-nying besar (Chiporodomys
major). Tambahan hewan endemik Kalimantan lainnya adalah:
Bajing Tanah (Lariscus hosei) ,Bajing Telinga
Botol (Callosciurrus adamsi) Burung Sempidan Kalimantan (Lophura
bulweri). Burung Rangkong (Buceros rhinoceros) Burung Tokhtor
Kalimantan (Carpococcyx radiceus) , Kadal Coklat Kalimantan (Lanthanotus
borneensis). Katak Tanpa Paru-Paru (Barbourula kalimantanensis) ,
Kera Belanda (Nasalis larvatus), Kucing Merah (Felis badia),
Owa-owa (Hyllobates muelleri), Orang Utan Kalimantan (Pongo
pygmaeus), Landak Kalimatan (Thecurus crassispinis), Lutung Dahi
Putih (Presbytis frontata), Lutung Merah (Presbytis rubicunda),
Macan Dahan (Neofelis diardi) (Fajar,2010).
Banyaknya jenis hewan endemik Kalimantan harus
diimbangi dengan upaya plestarian yang nyata, karena ijka hewan endemik
tersebut di eksplotasi oleh oknum yang hanya memikirkan individu diriya sendiri
maka hanyalah sebuah mimpi anakcucu kita dapat melihat banyaknya hewan endemik
yang Indonesia, khususnya Kalimantan miliki. Salah satu upaya yang dilakukan
oleh Departemen Kehutanan adalah mendirikan pusat rehabilitasi hutan untuk
penyelamatan satwa khas Indonesia.( Dephut RI, 2006). Selain itu
dibutuhkan pula perangkat hukum yang tegas untuk menyikapi segala bentuk
kejahatan yang menggangu ekosistem dan habitat hewan endemik tersebut. Kalimantan
memiliki hewan endemik yang cukup banyak. Hewan endemik ini harus dilestarikan
dengan pemgelolaan dan pengawasan yang baik, serta dukungan dari seluruh
pihak dan lapisan masyarakat.
Daftar Pustaka:
BAPPENAS. 2003. Indonesia Bioiversity Strategy and
Action plan 2003-2020.Jakarta.
Marthen, T.L. dkk . 2003. Fauna Endemik Sulawesi:
Permasalahan dan Usaha Konevasi.
Maryanto, Ibnu, Woro A. Noerdjito. 2006. Flora
Fauna Jawa Barat. Bogor: LIPI Press.
Mittermeier,R.A.,P.Roblesgil & C.O. Mittermeier
1997. Megadiversity Earth Biologically Wealthiest Nations. Quebecor Printing In. Canada. 17-97.
Pamulardi, Bambang. 1995. Hukum Kehutanan dan
Pembangunan Bidang
Kehutanan.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
RI. 1994. Rencana Pembangunan Lima Tahun VI.
9/95-1998/99.Buku III RI, Jakarta.
Santosa, Yanto, Eko Prasetyo Ramadahan, Dede Aulia
Rahman. 2008. Studi Keanekaraganman Mamala pada Beberapa Tipe Habitat di Stasiun Ambung Taman Nasional Tanjung Putting
Kalimantan Tengah. Media Konservasi
vol. B No. 3 Desember 2008: 1-7.
Wadojo, Siswanto.2006. Kehutanan Indonesia
2005-2006. Jakarta: Dephut RI
Martha, Fajar. 2010. Hewan Endemik Indonesia.
[terhubung berkala]: http://biolgipedia.
blogsot.com [15 September 2011]
Nur, Fajar Ichwan. 2007. Biogeografi dan Persebaran
hewan di Muka Bumi. [terhubung
berkala]: http://fajarichwannoor.wordpress.co m / [15
September 2011].
[Anonim]. 2009. Jenis dan Persebaran Fauna di
Indonesia dan Dunia. [terhubung berkala]:http://www.edukasi.net [15 September 2011].
[Anonim]. 2008. Persebaran Flora &
Fauna/ Hewan & Tumbuhan di Indonesia-Ilmu
Geografi.[terhubung berkala]: http://www.organisasi.org (15 September 2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar