BAB 10
HIMPUNAN DAN BILANGAN
6.1 PENGERTIAN, PENULISAN, DAN MACAM HIMPUNAN
Matematika teori himpunan,
yang baru diciptakan pada akhir abad ke-19,
sekarang merupakan bagian yang tersebar dalam pendidikan matematika yang mulai
diperkenalkan bahkan sejak tingkat sekolah dasar. Teori
ini merupakan bahasa untuk menjelaskan matematika modern. Teori himpunan dapat
dianggap sebagai dasar yang membangun hampir semua aspek dari matematika dan
merupakan sumber dari mana semua matematika diturunkan.
6.1.1 Notasi Himpunan
Biasanya, nama himpunan
ditulis menggunakan huruf besar, misalnya S, A, atau B, sementara anggota
himpunan ditulis menggunakan huruf kecil (a, c, z).
6.1.2 Relasi
Antar Himpunan Himpunan Bagian
Dari
suatu himpunan, misalnya A = {Kucing, Anjing, Kelinci, Monyet}, dapat dibuat
himpunan-himpunan lain yang anggotanya adalah diambil dari himpunan tersebut.
-{Kucing,Anjing}
-{Anjing, Monyet}
-{Kucing, Kelinci, Monyet}
Ketiga himpunan di atas memiliki
sifat umum, yaitu setiap anggota himpunan itu adalah juga anggota himpunan A.
Himpunan-himpunan ini disebut sebagai himpunan bagian dari A.
6.1.3 Super
Himpunan
Kebalikan dari subhimpunan adalah
superhimpunan, yaitu himpunan yang lebih besar yang mencakup himpunan tersebut.
6.1.4 Kesamaan
Dua Himpunan
Himpunan A dan B disebut sama, jika
setiap anggota A adalah anggota B, dan sebaliknya, setiap anggota B adalah
anggota A. Atau Definisi di atas sangat berguna untuk membuktikan bahwa
dua himpunan A dan B adalah sama. Pertama, buktikan dahulu A adalah subhimpunan
B, kemudian buktikan bahwa Badalah subhimpunan A.
6.1.5 Himpunan
Kuasa
Himpunan kuasa atau himpunan pangkat
(power set) dari A adalah himpunan yang terdiri dari seluruh himpunan bagian
dari A.
6.2 DIAGRAM VENN
Diagram Venn
atau diagram set adalah diagram
yang menunjukkan semua kemungkinan hubungan logika
dan hipotesis
di antara sekelompok (set/himpunan/grup) benda/objek. Sebagai bagian ilmu matematika,
diagram Venn ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1880 oleh John
Venn untuk menunjukkan hubungan
sederhana dalam topik-topik di bidang logika,
probabilitas,
statistik,
linguistik
dan ilmu
komputer.
6.3 OPERASI ANTARA HIMPUNAN
6.3.1 Pengertian
Himpunan
Secara sederhana, himpunan artinya
kumpulanbenda (objek). Sedangkan dalam dunia matematika himpunan didefiniskan
sebagai suatu kumpulan benda (objek) tertentu dengan batasan yang jelas.
misalnya:
1) A adalah nama bulan yang dimulai dengan huruf J, A = {Januari, Juni, Juli}.
2) B adalah himpunan bilangan asli kurang dari 7, maka B = {1, 2, 3, 4, 5, 6}.
1) A adalah nama bulan yang dimulai dengan huruf J, A = {Januari, Juni, Juli}.
2) B adalah himpunan bilangan asli kurang dari 7, maka B = {1, 2, 3, 4, 5, 6}.
6.3.2 Menyajikan
Himpunan Dalam Bentuk Pendaftaran (Tabulasi) Dan Perincian
Himpunan biasanya dinotasikan dengan
huruf besar A, B, C, X, A1, A2, dsb. Anggota suatu himpunan biasanya
dinotasikan dengan huruf kecil a, b, c, x, x1, y, y1,
Himpunan dapat disajikan dengan cara:
Himpunan dapat disajikan dengan cara:
1.
Mendaftar anggota-anggotanya di dalam tanda kurung kurawal. Contoh:
·
N adalah himpunan bilangan asli yang kurang dari lima disajikan
dengan
N = {1, 2, 3, 4}.
N = {1, 2, 3, 4}.
·
P adalah himpunan konsonan yang membentuk kata “Jaringan”
disajikan dengan
P = {j, r, g, n}.
P = {j, r, g, n}.
2.
Menyajikan sifat-sifat anggotanya. Contoh:
·
A = {bilangan asli}
·
C = {bilangan cacah}
·
D = {bilangan bulat negatif}
·
E = {bilangan cacah yang kurang dari lima}.
3.
Menggunakan notasi pembentuk himpunan. Dengan cara ini himpunan
disajikan dalam bentuk {x | x bersifat R}, dibaca himpunan
x di mana x bersifat R. Contoh:
·
Himpunan A di atas disajikan dengan A = {x | x adalah bilangan asli}.
·
Himpunan E di atas disajikan dengan E = {x | x adalah bilangan cacah dan
x < 5}.
·
Banyak anggota dari himpunan A dinotasikan dengan n(A). Contoh: n({1, 2, 3, 4}) = 4, n{} = 0, n({bilangan asli}) = tak terhingga.
6.3.3 Macam-Macam
Himpunan Berdasarkan Jumlah Anggotanya Atau Hubungan
A. Himpunan
Bagian (Subset)
Himpunan A dikatakan himpunan bagian
(subset) dari himpunan B ditulis A ⊂ B ”, jika setiap anggota A
merupakan anggota dari B. Dinyatakan dengan simbol : A ⊂ B Contoh :
Misal A = { 1,2,3,4,5 } dan B = { 2,4}.
Misal A = { 1,2,3,4,5 } dan B = { 2,4}.
B. Himpunan
Kosong (Nullset)
Himpunan kosong adalah himpunan yang
tidak mempunyai unsur anggota yang sama sama sekali. Contoh : A = {x Î R |x2 + 4 = 0 }.
C. Himpunan
Semesta
Contoh : Apabila kita membicarakan himpunan A
maka yang dapat menjadi himpunan semesta adalah: U = himpunan bilangan cacah.
6.3.4 Menggambarkan
Hubungan Antara Himpunan Dengan Diagram Venn
Kalian telah mempelajari cara membaca diagram Venn. Sekarang, kita akan mempelajari
cara menyajikan suatu himpunan ke dalam diagram Venn. Misalkan S = {1, 2, 3, ..., 10}, P = {1, 3, 5, 7, 9}, dan Q = {2, 3, 5, 7}.
Himpunan P
Q = {3, 5, 7}, sehingga dapat
dikatakan bahwa himpunan P dan Q saling berpotongan. Diagram Venn yang
menyatakan hubungan himpunan S, P, dan Q,
6.3.5 Operasi-Operasi
Antar Himpunan
Dalam teori himpunan ada aturan atau
hukum yang menghubungkan himpunan yang satu dengan yang lain. Ada tiga operasi
himpunan, yaitu : operasi gabungan, operasi irisan, dan operasi selisih.
A. Operasi
Gabungan (Union)
Operasi Gabungan (union) himpunan A
dan himpunan B, ditulis sebagai A È B, adalah sebuah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota A atau anggota B atau anggota keduanya, didefinisikan sebagai
berikut : A È B = { x | x Î A V x Î B }. Contoh :
Jika A = { 2,4,6,8,10 } dan B = { 1,3,5,7,9 } ,maka A È B = { 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 }.
B. Operasi Irisan (Intersection)
B. Operasi Irisan (Intersection)
Irisan (interseksi) himpunan A dan
himpunan B, ditulis sebagai A ÇB, adalah sebuah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota bersama dari himpunan A dan B, dapat didefinisikan sebagai
berikut : A ∩ B = {x| x ϵ A ʌ x ϵ B } (Tanda ʌ artinya dan).
C. Operasi Selisih
Selisih (difference) dari himpunan A
dengan himpunan B, ditulis sebagai A - B, adalah sebuah himpunan yang
anggotanya merupakan anggota himpunan A yang bukan merupakan anggota himpunan
B. Jadi A – B berbeda dengan B – A. Perhatikan Gb. 1.4, daerah yang diarsir
merupakan selisih A dan B. Dapat didefinisikan sebagai berikut :
A – B = { x | x Î A ʌ x Ï B }.
6.4 HIMPUNAN BILANGAN DAN SKEMANYA
6.4.1 Himpunan
Bilangan Asli
Himpunan bilangan asli adalah
himpunan bilangan yang anggota-anggotanya merupakan bilangan bulat positif. N = {1,2,3,4,5,6,......}.
6.4.2 Himpunan
Bilangan Prima
Himpunan bilangan prima adalah
himpunan bilangan-bilangan asli yang hanya dapat dibagi dirinya sendiri dan
satu, kecuali angka 1. P = {2,3,5,7,11,13,....}.
6.4.3 Himpunan
Bilangan Cacah
Himpunan bilangan cacah adalah
himpunan bilangan yang anggota-anggotanya merupakan bilangan bulat positif
digabung dengan nol. C = {0,1,2,3,4,5,6,....}.
6.4.4 Himpunan
Bilangan Bulat
Himpunan bilangan bulat adalah
himpunan bilangan yang anggota-anggotanya seluruh bilangan bulat, baik negatif,
nol, dan positif. B = {...,-3,-2,-1,0,1,2,3,...}.
6.4.5 Himpunan
Bilangan Rasional
Himpunan bilangan rasional adalah
himpunan bilangan yang anggota-anggonya merupakan bilangan yang dapat
dinyatakan sebagai:
p/q dimana p,q Î bulat dan q ¹ 0 atau dapat dinyatakan sebagai suatu desimal berulang. Contoh: 0,-2, 2/7, 5, 2/11, dan lain lain.
p/q dimana p,q Î bulat dan q ¹ 0 atau dapat dinyatakan sebagai suatu desimal berulang. Contoh: 0,-2, 2/7, 5, 2/11, dan lain lain.
6.5 BILANGAN BULAT DAN RIIL
6.5.1 Himpunan Bilangan,
Sifat-Sifat Bilangan Dan Anggota HIMPUNAN
Suatu himpunan didefinisikan sebagai
koleksi objek-objek berbeda yang terdefinisi dengan baik. Anggota suatu
himpunan disebut elemen atau titik. Kata berbeda dimaksud bahwa elemen yang
sama hanya ditulis satu kali, sedang yang dimaksud dengan terdefinisi dengan
baik artinya kita dapat membedakan mana yang objek yang menjadi anggota
himpunan dan mana objek yang bukan anggota. Dengan demikian jika diambil satu
objek, kita dapat mengatakan objek itu anggota himpunan atau tidak.
6.5.2 Membedakan
Bilangan Bulat Dan Riil Bilangan Bulat
Contoh:
2 x 3 akan menghasilkan 6 dimana 2 adalah bilangan bulat, 3 adalah bilangan bulat dan 6 adalah bilangan bulat. 2 – 3 akan menghasilkan -1 dengan -1 adalah bilangan bulat negatif
2 + 3 akan menghasilkan 5 dengan 5 adalah bilangan bulat positif.
2 x 3 akan menghasilkan 6 dimana 2 adalah bilangan bulat, 3 adalah bilangan bulat dan 6 adalah bilangan bulat. 2 – 3 akan menghasilkan -1 dengan -1 adalah bilangan bulat negatif
2 + 3 akan menghasilkan 5 dengan 5 adalah bilangan bulat positif.
Daftar
Pustaka:
https://www.scribd.com/document/317200689/Matematika-Dan-IAD-Bab-10-Himpunan-Dan-Bilangan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar