BAB 3
RUANG LINGKUP IPA
1.5 Perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kumpulan pengetahuan tersusun secara
sistematis yang didasarkan pada penyelidikan dan interpretasi terhadap
peristiwa-peristiwa atau gejala alam melalui metode dan sikap ilmiah. Ilmu ini
terus berkembang, bertambah luas, dan mendalam sesuai dengan hasil-hasil
penemuan dan penyelidikan baru, menyebabkan timbulnya cabang-cabang ilmu yang
dikenal sebagai: Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa
(IPBA). Dalam perkembangannya, ternyata banyak proses yang penjelasannya
memerlukan bantuan dari dua atau lebih cabang ilmu yang merupakan kombinasi
dari cabang-cabang yang telah ada, seperti Kimia Fisika, Biokimia, Biofisika,
dan Geofisika. Pembagian IPA dalam berbagai cabang tersebut sebenarnya untuk
lebih mempermudah mempelajari alam seisinya dari sudut pandang tertentu. Namun
di luar dari pada itu, satu hal yang pasti, yakni sasaran yang diselidiki,
diuraikan, dan dibahas adalah satu, yaitu alam semesta yang meliputi: asal mula
alam semesta dengan segala isinya, termasuk proses, mekanisme, sifat benda
maupun peristiwa yang terjadi. Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran
sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba, dan sebagainya. Sedang
makrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat besar,
misalnya bintang, planet, dan galaksi
Konsep
pemikiran manusia tentang pusat universe atau alam semesta sangat radikal.
Awalnya para ilmuan astronom menetapkan bahwa manusialah yang sebagai pusat,
yang diberi nama teori egosentris. Setelah itu mereka menetapkan bumi yang
menjadi pusat yang ditokohi oleh Cladius Ptolemeus. Teori ini dikenal dengan
geosentris. Namun setelah itu Nicolas Copernicus mengungkap teori baru di mana
matahari dijadikan pusat alam semesta, heliosentris. Namun saat ini mereka baru
menyadari bahwa teoti tersebut lebih cocok digelayutkan pada tata surya. Dan
tata surya hanyalah sebagian dari galaksi, dan galaksi adalah satu kumpulan
bintang dari banyak kumpulan bintang di alam semesta.Alam semesta
merupakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dan juga di luar angkasa yang
keberadaannya, menjadi teka teki yang perlu ditelusuri lebih dalam begitu
luasnya alam semesta sehingga tak akan mungkin berakhir apabila terus diteliti.
Namun para ahli astromomi mendefinisikan alam semesta dalam pengertian yang
lebih spesifik yaitu tentang ruang angkasa dan benda-benda langit yg ada di
dalamnya. Dalam makalah ini materi yang akan dibahas meliputi:
a) Alam
Semesta
• Terbentuknya alam
menurut pandangan IPA
• Definisi teori ledakan
dan ekspansi –kontraksi
b) Tata
Surya
• Teori terbentuknya
tata surya
• Komponen penyususn tata surya
Rasa ingin tahu dan terbentuknya
ilmu pengetahuan
Beberapa
binatang sudah mempunyai otak, sehingga mempunyai daya piker namun terbatas
pada insting (naluri) dan upaya mempertahankan diri serta turunannya. Insting
tersebut terutama ditujukan untuk kelangsungan hidupnya seperti memperoleh
makanan, perlindungan diri dan perkembangbiakan. Aktivitas hewan tersebut
ternyata tidak berubah dari masa ke masa dan dinyatakan sebagai idle
curiousity. Sedangkan manusia di samping mempunyai naluri dan nurani,
manusia juga memiliki nalari. Dengan nalari itu, manusia menggunakan kemampuan
otaknya untuk melakukan penalaran, pemikiran logis dan analisis. Berlandaskan
kemampuan tersebut maka pengetahuan yang diperoleh saat ini merupakan dasar
dari munculnya rasa ingin tahu manusia tersebut selalu berkembang (curiousity).
Dengan
nurani, manusia selalu ingin berbuat baik untuk dirinya dan lingkungannya. Secara
sederhana perkembangan rasa ingin tahu dimulai dengan
pertanyaan apa atau “what” tentang sesuatu, dan dilanjutkan
dengan pertanyaan bagaimana atau “how” dan mengapa atau “why”.
Sebagai contoh adalah perkembangan rasa ingin tahu anak-anak terhadap suatu
benda, maka pertanyaan yang diajukan oleh anak pada usia sekitar dua tahun
adalah “apa” nama benda tersebut, misalkan benda tersebut adalah
pensil. Pertanyaan selanjutnya yang akan muncul pada usia menjelang TK adalah “bagaimana”
menggunakannya. Setelah usianya lebih dewasa lagi, maka pertanyaan yang akan
muncul di benaknya adalah “mengapa” pensil dapat digunakan untuk
menulis? Dengan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang
diajukan, maka anak tersebut akan mendapatkan pengetahuan baru dan sekaligus
rasa ingin tahunya terjawabkan.
Adanya
kemampuan berpikir pada manusialah yang menyebabkan terus berkembangnya rasa
ingin tahu tentang segala yang ada di alam semesta. Pengetahuan yang diperoleh
dari alam semesta ini selanjutnya merupakan dasar dari pengembangan ilmu
pengetahuan alam (IPA). Dengan akal yang dimiliki manusia, semua pengetahuan
dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Informasi yang
dapat disimpan dan diajarkan kepada generasi berikutnya, ditambah dengan
pengetahuan yang diperoleh saat itu maka informasi tentang pengetahuan ini akan
terus bertambah dan berkembang dari generasi ke generasi berikutnya.
Berdasarkan
uraian di atas, maka secara sederhana urutan perkembangan ilmu dimulai
dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu maka dilakukan
suatu pengamatan.Berdasarkan pengamatan berulangkali
diperoleh pengalaman. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang
terus-menerus diperoleh pengetahuan, semisal sifat dari benda yang
diamati.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu
Pengetahuan Zaman Purba
Ilmu
Pengetahuan Zaman Yunani Kuno
Ilmu
Pengetahuan Zaman Renaissance dan Modern
A. ALAM SEMESTA
TERBENTUKNYA
ALAM SEMESTA MENURUT PANDANGAN IPA
Teori
yang mengungkapkan tentang terbentuknya alam semesta di kelompokkan menjadi :
a.
Teori osilasi
Materi
alam semesta bergerak saling menjauhi kemudian akan berhenti, lalu akan
mengalami pemampatan demikian seterusnya. Teori ini, mengemukakan bahwa alam
semsta sekarang sedang mengembang karena sebelumnya telah terjadi pemusatan.
b.
Teori keadadan tetap (Steady-State Theory)
Teori
ini berdasarkan prinsip kosmopologi sempurna yang menyatakan bahwa alam semesta
dimanapun dan bilamanapun selalu sama. Berdasar prinsip tersebut, alam semesta
terjadi pada suatu saat tertentu yg telah lalu dan segala sesuatu di alam
semesta selalu tetap sama walaupun galaksi-galaksi saling bergerak menjauhi
satu sama lain. Kenyataanya bahwa galaksi baru mempunyai jumlah yang sebanding
dengan galaksi lama.
c.
Teori Dentuman besar (Big-bang)
Teori
ini menyatakan bahwa seluruh materi dan energi dalam alam semesta pernah
bersatu membentuk sebuah bola raksasa. Kemudian bola raksasa itu meledak hingga
seluruh materi mengembang karena penggaruh energi ledakan yang sangat besar.
d.
Teori Dentuman
Berdasarkan
teori ini, alam semesta terbentuk karena adanya ledakan massa yang sangat hebat
yang disebabkan oleh adanya reaksi inti. Berbagai teori tentang jagad raya
membentuk suatu bidang studi yang dikenal sebagai kosmologi. Einstein adalah
ahli kosmologi modern pertama. Tahun 1915 ia menyempurnakan teori umumnya
tentang relativitas, yang kemudian diterapkan pada pendistribusian zat di luar
angkasa. Pada tahun 1917 secara matematik ditentukan bahwa tampaknya ada massa
bahan yang hampir seragam yang keseimbangannya tak tentu antara kekuatan tarik
gravitasi dan kekuatan olek atau kekuatan dorong kosmik lain yang tak dikenal.
Pada
tahun 1922 seorang ahli fisika Rusia muncul dengan pemecahan soal itu secara
lain, yang mengatakan bahwa kekuatan tolak tidak berperan bahkan jagad raya
terus meluas dan seluruh partikel terbang saling menjauhi dengan kecepatan
tinggi. Karena kekuatan tarik gravitasi, perluasan itu terus melambat. Sebelumnya,
partikel-partikel itu telah bergerak keluar bahkan lebih cepat lagi. Dalam
model jagat raya ini dahulu perluasan mulai pada saat yang unik yang disebut
“letusan hebat”.
Teori
letusan hebat rupanya begitu berlawanan dengan pengetahuan astronomi zaman sekarang,
yang mula-mula sedikit menarik perhatian. Akhirnya sebanyak bintang dalam
galaksi Bimasakti bukannya saling menjauhi satu sama lain, tetapi malahan
berjalan dalam orbit sirkular mengelilingi wilayah pusatnya yang padat. Akan
tetapi, pada tahun 1929 Edwin Hubble, ketika itu ahli astronomi di
Observatorium Mount Wilson, mengemukakan bahwa berbagai galaksi yang telah
diamatinya sebenarnya menjauhi kita, dan menjauhi yang lain, dengan kecepatan
sampai beberapa ribu kilometer per-detik.
Rupanya
galaksi-galaksi ini, seperti halnya Bimasakti kita, menjaga keutuhan bentuk
internalnya selama waktu yang panjang. Galaksi-galaksi itu secara
sendiri-sendiri mengarungi angkasa raya, kira-kira sebagain unit atau partikel
yang bergerak mengarungi ruang angkasa. Teori Einstein dapat diterapkan pada
berbagai galaksi, sebagai ganti bintang-bintang.
e.
Teori Ekspansi dan Kontraksi
Teori
ini mengungkapkan bahwa galaksi dan bintang-bintang terbentuk pada saat masa
ekspansi
1. Definisi Teori Ledakan dan Ekspansi-Kontaksi
1. Definisi Teori Ledakan dan Ekspansi-Kontaksi
Teori
ini berdasarkan pemikiran bahwa ada suatu siklus di alam semesta, yaitu ”masa
ekspansi” dan ”masa kontraksi” yang diduga siklus ini berlangsung dalam waktu
30 juta tahun.
Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi serta bintang-bintangnya. Ekspansi ini didukung oleh adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hidrogen yang pada akhirnya akan membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk meredup dan unsur-unsur yang terbentuk menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi.
Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksi-galaksi serta bintang-bintangnya. Ekspansi ini didukung oleh adanya tenaga yang bersumber dari reaksi inti hidrogen yang pada akhirnya akan membentuk berbagai unsur lain yang kompleks. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang terbentuk meredup dan unsur-unsur yang terbentuk menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi.
B. TEORI TERBENTUKNYA TATA
SURYA
Melihat
kenyataan bahwa planet-planet bergerak mengelilingi matahari dengan orbitnya
yang berebentuk elips dengan arah peredaran yang sama yaitu berlawanan arah
jarum jam jika melihatnya dari kutub utara, ternyata arah revolusi
planet-planet dan satelitnya yaitu arah negative. Ini berlawanan dengan yang
kita amati di bumi, peredaran harian benda-benda langit seperti matahari, bulan
dan bintang berarah positf seperti arah peredaran harian matahari yang terbit
di timur lalu naik dan kemudian terbenam di barat. Adanya realitas yang
demikian membuat para ahli astronomi berkesimpulan bahwa tata surya terbentuk
dari material yang berputar dengan arah negative, hal ini kemudian memunculkan
beberapa teori tentang terjadinya tata surya sebagai berikut:
1.
Teori Nebule atau teori kabut, yang dikemukakan ole Immanuel Kant (1749-1827)
dan Piere Simon de Laplace (1796).
Matahari
dan planet berasal dari sebuah kabut pijar yang berpilin di dalam jagat raya,
karena pilinannya itu berupa kabut yang membentuk bulat seperti bola yang
besar, makin mengecil bola itu makin cepat putarannya. Akibatnya bentuk bola
itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian equatornya bahkan sebagian
massa dari kabut gas menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk gelang-gelang
di sekeliling bagian utama kabut itu, gelang-gelang itu kemudian membentuk
gumpalan padat inilah yang disebut planet-planet dan satelitnya. Sedangkan
bagian tengah yang berpijar tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sekarang
sebagai matahari.
Teori
kabut ini telah dipercaya orang selama kira-kira 100 tahun, tetapi sekarang
telah benyak ditinggalkan karena:
(a) tidak mampu memberikan
jawaban-jawaban kepada banyak hal atau masalah di dalam tata surya kita dan
(b) karena munculnya banyak teori baru
yang lebih memuaskan.
2.
Teori Planetesimal, Thomas C. Chamberlin (1843-1928) seorang ahli geologi dan
Forest R. Moulton (1872-1952) seorang astronom.
Disebut
Planetesimal yang berarti planet kecil karena planet terbentuk dari benda padat
yang memang telah ada. Matahari telah ada sebagai salah satu dari
bintang-bintang yang banyak, pada satu waktu ada sebuah bintang yang berpapasan
pada jarak yang tidak terlalu jauh akibatnya terjadi pasang naik antara
matahari dan bintang tadi. Pada waktu bintang itu menjauh sebagian massa dari
matahari itu jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lain berhamburan
di sekeliling matahari inilah yang disebut dengan planetesimal yang kelak
kemudian menjadi planet-planet yang beredar pada orbitnya dan mengelilingi
matahari.
3.
Teori Pasang Surut, Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891)
keduanya dari Inggris, teori ini hampir sama dengan teori Planetesimal.
Setelah
bintang itu berlalu dengan gaya tarik bintang yang besar pada permukaan
matahari terjadi proses pasang surut seperti peristiwa pasang surutnya air laut
di bumi akibat gaya tarik bulan. Sebagian massa matahari itu membentuk cerutu
yang menjorok kearah bintang itu mengakibatkan cerutu itu terputus-putus
membentuk gumpalan gas di sekitar matahari dengan ukuran yang berbeda-beda,
gumpalan itu membeku dan kemudian membentuk planet-planet.
Teori
ini menjelaskan mengapa planet-planet di bagian tengah seperti Yupiter,
Saturnus, Uranus dan Neptunus merupakan planet raksasa sedangkan di bagian
ujungnya merupakan planet-planet kecil. Kelahiran kesembilan planet itu karena
pecahan gas dari matahari yang berbentuk cerutu itu maka besarnya planet-planet
iti berbeda-beda yang terdekat dan terjauh besar tetapi yang di tengah lebih
besar lagi.
4.
Teori Awan Debu, dikemukakan oleh Carl von Weizsaeker (1940) kemudian
disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950).
Tata
surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami
pemampatan, pada proses pemampatan itu partikel-partikeldebu tertarik ke bagian
pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin dan kemudian
membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya.
Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan
panas dan berpijar, bagian inilah yang kemudian menjadi matahari. Sementara
bagian yang luar berputar sangat cepat sehingga terpecah-pecah menjadi gumpalan
yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi
planet-planet.
5.
Teori Bintang Kembar
Teori
ini hampir sama dengan teori planetesimal.Dahulu matahari mungkin merupakan
bintang kembar,kemudian bintang yang satu meledak menjadi
kepingan-kepingan.Karena ada pengaruh gaya gravitasi bintang,maka
kepingan-kepingan yang lain bergerak mengitari bintang itu dan menjadi
planet-planet.Sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi matahari.
6.
Teori Ledakan (Big Bang), George Gamow, Alpher dan Herman.
Alam
pada saat itu belum merupakan materi tetapi pada suatu ketika berubah menjadi
materi yang sangat kecil dan padat, massanya sangat berat dan tekanannya besar,
karena adanya reaksi inti kemudian terjadi ledakan hebat. Massa itu kemudian
berserak dan mengembang dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan dan
membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis yang lebih kecil dan trus
bergerak, menjauhi titik pusatnya.
Dentuman
besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos keluar dengan kerapatan yang
sangat besar dan suhu yang sangat tinggi dari volume yang sangat kecil. Alam
semesta lahir dari singularitas fisis dengan keadaan ekstrem. Teori Big Bang
ini semakin menguatkan pendapat bahwa alam semesta ini pada awalnya tidak ada
tetapi kemudian sekitar 12 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan.
Pada
tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia
mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa
radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu,
radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti
yang ’seharusnya ada’ ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua
peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa
sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat
memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang
angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi
peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi
hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada
tahun 1989, NASA mengirimkan satelit COBE (Cosmic Background Explorer). COBE ke
ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya
perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE
telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan
alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa,
penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.
Bukti
penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa.
Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam
semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium
sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan
dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah
habis sama sekali dan berubah menjadi helium.
Segala
bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat
ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan
tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan
oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat.
Yang
telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka
lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.
Bagian-bagian
tata surya :
1).
Matahari
Matahari
adalah suatu bola gas yang pijar dan tidak bulat betul. Matahari juga merupakan
tata surya yang paling besar, karena 98% massa tata surya terkumpul pada
matahari. Matahari juga merupakan pusat sumber tenaga di lingkungan tata surya.
Matahari terdiri dari inti dan 3 lapisan kulit yang masing-masingnya fotosfer,
kromosfer dan korona.
Jarak
matahari ke bumi adalah 9,3 x 107 mil yang dipakai sebagai satuan astronomi.
Diameter matahari kira-kira 100 kali diameter Bumi. Gaya tarik matahari
kira-kira 30 kali gaya tarik Bumi.
Matahari
sangat penting bagi kehidupan di Bumi, karena merupakan sumber energi (sumber
panas), Mengontrol stabilitas peredaran Bumi (rotasi dan revolusi)
2).
Planet Merkurius
Merupakan
planet terkecil dan terdekat dengan matahari. Merkurius tidak mempunyai satelit
atau hawa. Merkurius mengandung albedo, yaitu perbandingan antara cahaya yang
dipantulkan jauh lebih kecil dari pada cahaya yang diserap, yakni hanya 0,07
yang dipantulkan sementara 93% diserap. Garis tengahnya 4.500 km. bagian yang
menghadap matahari sangat panas, sementara bagian yang membelakangi bumi sangat
dingin (karena tidak ada air dan udara). Diperkirakan tidak ada kehidupan di
planet ini. Kala rotasinya rotasinya 56,8 hari, dan kala revolusinya 88 hari.
3).
Planet Venus
Lebih
kecil dari Bumi dan mempunyai albedo 0,8 atau 20% dari cahaya matahari yang
datang diserapnya. Dikenal sebagai Bintang Kejora yang bersinar terang pada
pagi dan sore hari. Berdiameter 12.320 km dank ala rotasinya kurang dari 247
hari serta berevolusi selama 225 hari. Dengan analisis spektrum atas cahaya
yang datang dari Venus dapat diketahui bahwa di sana terdapat oksigen.
4).
Planet Bumi dan Bulannya
Bumi
menempati urutan ketiga terdekat dari bumi dengan diameter 12.646 km. Jarak
antara Bumi dengan matahari 149 juta km yang dijadikan sebagai satuan jarak
Astronomis atau Astronomical Unit (AU). Jadi, 1 AU = 149 juta km. Berat jenis
rata-rata Bumi adalah 5,52 dan beratnya 6,6 x 1021 ton.
Pada
awalnya (sebelum adanya pengamatan manusia yang lebih akurat tentang
benda-benda langit dan masih dalam pengetahuan kuno) manusia beranggapan bahwa
Bumi ini datar. Tetapi, melalui pengamatan yang lebih akurat serta dengan
majunya ilmu pengetahuan, manusia baru menyadari bahwa Bumi ini adalah bulat.
Bahkan melalui pengamatan satelit luar angkasa dapat dilihat bahwa bentuk Bumi
ini tidak bulat betul tetapi agak memipih dibagian kutubnya.
Kata
“yukawwir” atau yang berasal dari kata “taqwir” berarti “menutup” yang dalam
bahasa Arab diartikan “membungkus atau menutup secara melingkar”. Melingkar di
sini diartikan sama dengan bentuk bulat. Dalam ayat di atas pula ditambahkan
penjelasan tentang sistem peredaran masing-masing anggota tata surya seperti
matahari dan bulan.
Bulan
adalah satelit alami atau benda angkasa yang mengelilingi Bumi dengan jarak 384
ribu km dari Bumi dan dengan diameter 3.456 km. satu kali rotasi bulan sama
dengan satu kali revolusinya. Pada permukaan bulan terdapat gunung-gunung dan
dataran rendah. Bulan tidak mempunyai atmosfer. Apabila permukaan bulan terkena
oleh baying-bayang Bumi, maka akan terjadi gerhana bulan, dan bila Bumi yang
terkena baying-bayang bulan, maka akan terjadi gerhana matahari. Para ilmuwan
telah dapat memperhitungkan dengan sangat akurat kapan akan terjadi gerhana
bulan.
5).
Planet Mars
Planet
ini berwarna kemerah-merahan yang diduga tanahnya mengandung banyak besi
oksigen. Pada permukaan planet ini didapatkan warna-warna hijau, biru, dan sawo
matang yang selalu berubah sepanjang tahun. Diperkirakan bahwa di planet ini
ada kehidupan. Dugaan ini bertolak pada kenyataan:
Berdasarkan
pengamatan melalui teropong dan foto, pada permukaan Mars terdapat semacam
kanal (saluran atau dam air) yang sangat panjang dan
lurussekali.Mars tampaknya diselubungi oleh atmosfer.
Dari
analisis spektra sinar yang yang datang dari Mars menunjukkan adanya oksigen di
sana walaupun relatif sedikit.
Penelitian
terakhir menyatakan menunjukkan bahwa di planet Mars terdapat uap air walaupun
dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi para pakar cenderung mengatakan bahwa
perubahan warna permukaan planet ini disebaban oleh angin pasar, bukan oleh
organisme. Planet ini mempunyai 2 buah bulan/satelit. Satelit yang kecil diberi
nama Phobos, sedangan yang besarnya diberi nama Deimos. Jarak Mars ke matahari
adalah 1,52 AU, berdiameter 3.920 mil, berevolusi 1,9 tahun dari revolusi Bumi,
dan berotasi 24 hari 37 menit.
Menurut
data yang dikirim Mariner-4, di Mars tak ada oksigen, hamper tak ada air.
Sedangkan kutub es yang diperkirakan mengandung banyak air ternyata tak lebih
dari lapisan salju yang sangat tipis. Ini pula yang menyebabkan pada waktu
tertentu kutub yang berwarna putih itu lenyap dari pandangan mata.
6).
Planet Yupiter
Yupiter
merupakan planet terbesar dalam tata surya. Berdiameter 138.560 km dan berotasi
dengan cepat yaitu 10 jam. Akibat berotasi dengan cepat, bagian ekuatornya
sedikit mengembang dan membentuk sabuk. Yupiter tampak seperti bintang yang
terang di tengah malam.
Berdasarkan
analisis spektroskopis, atmosfer planet ini mengandung banyak gas metana dan
amoniak juga gas hidrogen. Albedonya 0,44 dan mempunyai 14 satelit. Massa
planet ini hamper 300 kali massa Bumi dan gravitasinya 2,6 kali gravitasi Bumi.
7).
Planet Saturnus
Saturnus
adalah planet terbesar kedua di tata surya dengan diameter 118.400 km dengan
kecepatan rotasi yang sama dengan Yupiter. Kandungan lapisan atmosfernya pun
sama dengan Yupiter yang bersuhu rata-rata 1030C, tapi suhu permukaannya sangat
rendah, yaitu 2430F. namun massa jenisnya sangat kecil, yaitu 0,75 g/cm3.
Planet
ini mempunyai sabuk putih yang melilit di ekuatornya dengan jarak dari
permukaan planet 7.000 – 37.000 mil yang berbentuk pipih setebal 10 mil dan
berupa debu. Sabuk ini mempunyai kecepatan berbeda ketika mengelilingi planet
Saturnus, sabuk bagian dalamlebih cepat dari pada sabuk bagian luar.
Saturnus
mempunyai 10 satelit, diantaranya Titan (satelit terbesar, 2 kali bulan Bumi),
Phoebe (dengan gerak yang berlawanan dengan planet Saturnus yang menunjukkan
bahwa Phoebe bukan anak kandung Saturnus.
Keanehan
sabuk raksasa dan Phoebe memperkuat Teori Tidal. Sabuk Saturnus mengembang dan
merapat pada permukaan planet 15 tahun sekali.
8).
Planet Uranus
Planet
ini ditemukan secara ta sengaja oleh Herschel dan keluarga pada tahun 1781,
ketika mereka sedang mengamati Saturnus. Diameternya 50.560 km dan memiliki 5
satelit. Rotasinya bergerak dari Timur ke Barat. Jaraknya ke matahari 2,86
milyar km dengan kala revolusinya 84 tahun di Bumi. Kecepatan rotasinya 10 jam
47 menit. Berdasarkan pengamatan pesawat Voyager pada bulan Januari 1986,
Uranus memiliki 14 satelit.
9).
Planet Neptunus
Planet
ini ditemukan pada saat para astronom mengamati planet Uranus yang orbitnya
agak menyimpang dari perhitungan pada tahun 1846. Neptunus mempunyai 2 satelit
yang salah satunya bernama Triton yang beredar berlawanan arah dengan gerak
rotasi neptunus. Jarak Neptunus ke matahari 4.470 juta km, diameter 28.000 dan
kala revolusinya 165 tahun di Bumi.
10).Planet
Pluto.
Pluto
merupakan planet terluar dari tata surya yang ditemukan tahun 1930. Mulanya
orang tidak menyangka bahwa ia adalah planet karena sinarnya berkedip-kedip
seperti planet. Pluto disebut juga sebagai transneptunus, ada dugaan planet ini
merupakan bagian dari satelit neptunus yang terlepas. Hal ini disebaban garis
edarnya agak berbeda dengan plnet lain. Pada suatu saat, jaraknya sangat dekat
dengan matahari dibandingkan dengan Neptunus, pada saat lain lebih jauh.
Suhu
rata-rata planet ini 2200C. Pluto adalah nama dewa kegelapan dari bangsa
Yunani. Pemberian nama itu karena kenyataannya planet ini mendapat sedikit
sinar dari matahari, jaraknya dengan matahari ± 5.811 juta km. Pluto tidak
bersatelit
Benda-benda
langit lainnya dalam sistem tata surya selain planet adalah:
1).
Asteroida atau Planetoida, berbentuk seperti planet tetapi sangat kecil,
berdiameter 500 mil, jumlahnya lebih 2.000 buah dan terletak antara Mars dan
Yupiter.
2).
Komet atau bintang berekor, garis edarnya eksentrik, perihelionnya (jarak
terdekat dengan matahari) sangat dekat dengan matahari, sedangkan aphelionnya
(jarak terjauh dengan matahari) sangat jauh, berupa bola gas pijar seperti
matahari.
3).
Meteor atau bintang beralih, merupakan batuan dingin yang terjadi akibat gaya
tarik Bumi sehingga masuk ke atmosfer menjadi pijar karena bergesekan dengan
atmosfer.
4).
Satelit, yaitu benda langit dalam tata surya yang slalu beredar mengikuti dan
mengitari planet.
C. TEORI ASAL MULA BUMI
Bumi
merupakan satu-satunya planet yang sampai saat ini diketahui oleh manusia
terdapat kehidupan makhluk hidup. Diameter bumi ini adalah 12.756 Km (di
khatulistiwa). Jarak bumi dari matahari sekitar 150 Juta Km. Jarak tersebut
dikenal dengan satu Satuan Astronomis (SA). Lima miliar tahun yang lalu,system
tata surya kita tidak ada. Yang ada hanyalah awan debu dan gas yang secara
perlahan berubah bentuk.sembilan planet, termasuk Bumi, dibentuk dari materi
yang menggumpal, menyerupai gumpalan bola salju, di dalam kabut. Mengenai teori
sejarah asal terbentuknya bumi sebagai berikut:
ü Proses
dimulai sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu di pusat nebula matahari.
ü Matahari
terbentuk di pusat awan ini. Sementara itu, gas dan bahan lain di bagian
luarnya menggumpal.
ü Bebatun
kecil berubah menjadi lebih besar, membentuk cikal bakal planet, atau
protoplanet dengan diameter beberapa kilometre.
ü Protoplanet
saling bertumbuhan satu sama lain dan menggumpal hingga mencapai ukuran planet
(memiliki diameter beberapa ribu kilometer). Hingga ratusan juta tahun, planet
tersebut dibombardir secara kuat dan terus menerus oleh bebatuan lain.
ü Sekitar
4,5 miliar tahun yang lalu, bumitelah diselimuti oleh lautan larva yang berasal
dari bebatuan yang terbakar dan luasnya mencapai beberapa kilometre.
ü Secara
perlahan, lautan larva tersebut mendingin membentuk kerak yang dihantam terus
menerus oleh berbagai meteor dan komet.
ü Planet
muda kita juga mengalami aktifitas vulkanik yang melepaskan lapisan udara
secara radikal, lapisan udara ini berbeda dengan lapisan udara saat ini.
Keberadaan air dimungkinkan berassal dari kedalaman bumi atau dibawa dari
angkasa oleh komet dan membentuk laut. Pada saat bersamaan, kerak bumi berupa
menjadi benua.
ü Kemunculan
benua, laut, dan lapisan oksigen rendah menghasilkan proses pembentukan molekul
yang lebih kompleks, yang menuntun terciptanya fenomena yang luar biasa, yaitu
kehidupan. Bahkan lebih mengejutkan lagi, kehidupan dengan sangat cepat muncul
dari laut, kurang dari satu miliar tahun setelah bumi tecipta. Kehidupan
memerlukan beberapa miliar tahun lagi ke daratan.
Struktur Bumi
Bumi
diselimuti oleh gas yang disebut atmosfer, pada permukaan Bumi terdapat lapisan
air yang disebut hidrosfer, bagian Bumi yang padat terdiri dari kulit atau
lithosfer dan bagian inti disebut centrosfer.
1.
Lithosfer dan Centrosfer
Tebal
lithosfer hanya 32 km, merupakan bagian yang vital bagi kehidupan manusia yang
berupa benua dan pulau-pulau tempat tinggal kita. Lithosfer terdiri dari 2
lapisan dengan ketebalan yang tidak sama. Bagian atas terdiri dari Silikon (Si)
dan Aluminium (Al) dengan berat jenis (BJ) 2,65. Lapisan dalam terdiri dari Si
dan Magnesium (Mg) dengan BJ 2,9. Bagian tebal berupa Benua setebal 8 km dan
bagian tipis berupa dasar laut setebal 3,5 km. di bawah lithosfer terdapat
centrosfer yang dapat dibagi mulai dari yang paling dalam sampai yang terluar
atas:
Inti
dalam (815 mil)
Inti
luar (1.360 mil)
Bagian
mantel (180 mil)
BJ
inti Bumi 10,7 dan lebih besar dari BJ kulit Bumi (2,6) dan BJ Bumi (5,5).
Berdasarkan berat jenis itu, orang menduga bahwa inti Bumi terdiri dari Nikel
(Ni) dan Ferrum/besi (Fe). Inti inilah yang menentukan sifat keagnetan Bumi.
2.
Hidrosfer
Hidrosfer
yang menyelimuti Bumi adalah 75 % yang meliputi lautan, danau-danau dan es yang
terdapat di kedua kutub. Kedalaman laut rata-rata 4 km. laut terdalam terdapat
di dekat pulau Guam yang dalamnya ± 11 km.
Hidrosfer
sangat berpengaruh terhadap keadaan atmosfer, karena keduanya merupakan faktor
terjadinya siklus air. Hal ini pula yang menyebaban air laut menjadi asin.
Kandungan garam mineral air laut saat ini adalah 3,5%, terutama tang terbanyak
adalah NaCl (garam dapur) dan MgSO4 (garam Inggris).
3.
Atmosfer
Atmosfer
adalah lapisan gas/udara yang menyelimuti Bumi dengan ketebalan ± 4.800 km dari
permukaan laut. BJ atmosfer pada lapisan bagian bawah adalah 0,013 dan makin ke
atas makin kecil mendekati 0.
Secara
garis besarnya, atmosfer terbagi atas 3 lapisan utama, yaitu:
–
Troposfer
Lapisan
ini terhitung mulai dari permukaan bumi paling bawah (0 km dari permukaan air
laut) dan mempunyai ketebalan ± 16 km yang terletak pada garis khatulistiwa dan
menipis sampai ± 8 km pada kutub-kutub Bumi. Hampir seluruh uap air yang
terkandung di udara terdapat dalam lapisan ini. Aibatnya pada lapisan inilah
terjadinya perubahan cuaca. Pesawat terbang mengarungi udara hanya sampai batas
troposfer. Suhu troposfer semakin ke atas semakin turun secara teratur sebesar
190F hingga pada batas paling atas turun drastic sampai 0.
–
Stratosfer
Lapisan
ini mulai dari ± 16 km sampai 80 km di atas permukaan Bumi. Suhu rata-rata
sekitar 350C. Pada lapisan ini terdapat lapisan ozon (O3) yang sangat vital
bagi kehidupan di Bumi.
–
Ionosfer
Lapisan
ini terdapat di atas 80 km dengan tekanan udara sangat rendah, sehingga semua
partikel terurai menjadi ion-ionnya pada lapisan ini. Lapisan ini dapat
memantulkan gelombang radio yang sangat penting bagi manusia dalam komunikasi
radio jarak jauh. Gelombang radio ini tidak dapat langsung dipancarkan ke
daerah sasaran yang relatif jauh karena permukaan Bumi melengkung dan gangguan
cuaca pada troposfer. Akibat tipisnya lapisan ionosfer, maka batu meteor yang
jatu ke Bumi baru menyala setelah mencapai kerendahan ± 96 km di atas Bumi.
Atmosfer
dapat juga dibagi atas dasar suhu, yaitu lapisan troposfer, stratosfer,
mesosfer dan termosfer. Lapisan atmosfer berfungsi sebagai selimut atau tameng
bagi Bumi dari serangan benda luar seperti Meteor. Atmosfer juga melindungi
suhu Bumi dari suhu di luar angkasa, suhu yang panas dari radiasi sinar pada
siang hari, dan dari suhu luar yang sangat dingin mencapai 2700C di bawah nol
pada malam hari.
Daftar
Pustaka :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar