BAB
12
Relasi
7.1. Pengantar Mengenai Relasi
Anggota sebuah himpunan dapat
dihubungkan dengan anggota himpunan lain atau dengan anggota himpunan yang sama. Hubungan tersebut dinamakan dengan Relasi.
Misalkan M = { Ami, Budi, Candra, Dita} dan N = { 1,2,3}. Misalkan
Ami berusia 1 tahun, Budi berusia 3 tahun , Candra berusia 2 tahun dan Dita
berusia 1 tahun, maka kita dapat menuliskan sebuah himpunan P = { (Ami,1),
(Budi,3), (Candra,2), (Dita,1)} dimana P merupakan himpunan pasangan terurut
yang menggambarkan hubungan antara himpunan M dan himounan N.
Himpunan P merupakan relasi antara himpunan M dan himpunan N
dan dapat ditulis sebagai:
P = { (x,y) I x berusia y, dimana , dimana X M
dan Y N }
7.2. Produk Cartesius dan Relasi
Misalkan A dan B adalah sembarang himpunan yang tidak
kosong. Perkalian Cartesian A × B adalah himpunan semua pasangan terurut (x,y)
dimana x A dan y B.
A × B = { (x,y) | untuk setiap x A dan
y B }
Contoh
Misalkan C = { 2, 3, 4 } dan D = { x, y }.
C × D = { (2,x) , (2,y) , (3,x) , (3,y) , (4,x) , (4,y) }
D × C = { (x,2) , (y,2) , (x,3) , (y,3) , (x,4) , (y,4) }
Banyaknya anggota himpunan hasil perkalian cartesian A×B
sama dengan hasil kali antara banyaknya anggota A dengan banyaknya anggota B .
n(A × B ) = n (A ) × n(B ) .
Pada umumnya, A × B ≠ B ×
A . Akan tetapi n(A × B ) = n (B × A ).
Contoh 3
1. Dari contoh 2 diketahui n(C ) = 3 dan n(D) = 2.
Dengan demikian n(C × D ) = 3 × 2 = 6.
2. Dari contoh 1 n(M × N ) = n(N × M ) = 12.
Sebuah relasi R yang memasangkan anggota himpunan A kepada
anggota himpunan B, ditulis R : A → B merupakan sebuah himpunan
bagian dari perkalian cartesian A × B, ditulis R A×B.
A × A.Í A, maka R ®Jika
sebuah relasi R didefinisikan pada himpunan A, ditulis R :A
Contoh 4
1. Misalkan C = {2, 3, 4} dan D = {x, y}.
C × D =
{(2,x), (2,y), (3,x), (3,y), (4,x), (4,y)}
D didefinisikan
sebagai®Sebuah relasi R1: C
R1 = {(2,y) , (3,x) , (4,x), (4,y)}.
C × D.ÍJelas bahwa R1
G didefinisikan pada himpunan G = {5, 7, 11} sebagai R2 =
{(x,y) |x®2. Relasi R2 : G < G}.Îy,
dimana x, y
G × G.ÍRelasi tersebut dapat dinyatakan
sebagai R2 = {(5,7),(5,11), (7,11)} dan jelas bahwa R2
7.3. Penyajian Matriks Relasi dan Diagram
Panah
Sebuah relasi dapat disajikan dalam beberapa bentuk, yaitu :
1.
Diagaram panah
2.
Himpunan pasangan berurutan
3.
Diagram Cartesius
4.
Tabel
Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal
(domain), sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil (range). Relasi
yang telah dijelaskan pada bagian (a) .
5.
Matriks
Misalkan
R merupakan relasi yang menghubungkan himpunan A = {a1,
a2, ..., am}, dan himpunan B = {b1,
b2, ... bm}. Maka relasi tersebut dapat dinyatakan
dalam bentuk matriks.
Unsur-unsur mij pada
matriks tersebut bernilai nol atau satu, tergantung apakah unsur a1 pada
himpunan A rnernpunyai relasi dengan unsur b1 pada himpunan B.
Graphic Berarah
Berbeda dengan ketiga cara di atas, graf
tidak digunakan untuk menyajikan relasi dari sebuah himpunan ke himpunan lain,
tetapi graf digunakan untuk menyajikan relasi pada sebuah himpunan saja.
Contoh :
Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b,
a), (b, c), (b, d), (c, a), (c, d), (d, b)}
adalah sebuah relasi pada himpunan {a, b, c, d}. Relasi ini dapat disajikan dengan
graf berarah berikut:
7.4. Relasi Invers
Setiap relasi R dari himpunan A kepada himpunan B memiliki
invers yang dinamakan R-1 dari himpunan B kepada himpunan A, yang ditulis
sebagai
R }Î ( x , y ) |R-1
= { ( y , x )
Dengan kata lain, relasi invers R-1 dari R mengandung
pasangan-pasangan terurut yang bila dibalikkan akan terkandung dalam relasi R .
Contoh
Misalkan A = {1, 2, 3}, B = {a, b} dan relasi R =
{(1,a),(2,a),(2,b) ,(3,a)} merupakan relasi dari A pada B. Invers dari relasi R
adalah relasi
R-1 = {
(a,1) , (a,2) , (b,2) , (a,3) }.
Contoh
Misalkan W = {a, b, c}, relasi R = {(a,b) , (a,c) , (c,c) ,
(c,b)} merupakan relasi pada W. Invers dari relasi R adalah relasi
R-1 = {
(b,a) , (c,a) , (c,c) , (b,c) }.
7.5. Komposisi Relasi
S, atau dapat dinyatakan sebagai:Î
R dan (b,c) ÎMisalkan R relasi dari himpunan A ke
himpunan B dan S relasi dari himpunan B ke himpunan C. Didefinisikan relasi
baru dari himpunan A ke himpunan C, ditulis R S yang beranggotakan semua
pasangan terurut (a,c) yang memenuhi (a,b)
S}Î R dan (b,c) Î B yang memenuhi (a,b) ÎR S = {(a,c)| b
Misalkan A = {x,y,z}, B = {a,b,c,d}, C = {1,2,3,4,5}. R
relasi dari A ke B dan S relasi dari B ke C.
Misalkan R = {(x,a),(x,b),(y,b),(y,c),(y,d),(z,d)} dan
S =
{(a,1),(a,3),(b,2),(b,3),(b,5),(d,3),(d,4)}maka
R S ={(x,1),(x,2),(x,3),(x,5),(y,2),(y,3),(y,5),(y,4),(z,3),(z,4)}.
7.6. Sifat Relasi
R.Î A berlaku (a,a) ÎMisalkan R sebuah relasi yang
didefinisikan pada himpunan A. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika untuk
setiap a
Contoh
Diketahui A = {1, 2, 3}. Pada A didefinisikan relasi R1 =
{(1,1), (1,2), (2,2), (2,3) , (3,3) , (3,2)}. Relasi R1 tersebut bersifat
refleksif.
Contoh
B}. Maka R2 = {(2,2),
(4,4), (5,5), (4,2)}. Relasi R2 tersebut bersifat refleksÎ x kelipatan y, x, y |Diketahui B = {2,4,5}. Pada B
didefinisikan relasi R2 = {(x,y)
R.Î R berlaku (b,a) ÎRelasi R bersifat simetris jika
untuk setiap (a,b)
Contoh
Diketahui A = { 1, 2, 3 }. Pada A didefinisikan relasi R4 =
{(1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3)}. Relasi R4 tersebut bersifat simetris.
Contoh 13
R5.Ï R5 tetapi (2,4) Î B } = {(2,2) , (4,4) , (5,5) ,
(4,2)}. Relasi R5 tersebut tidak bersifat simetris karena (4,2) Î x kelipatan y , x, y |Diketahui B = { 2, 4, 5 }. Pada B
didefinisikan relasi R5 = { (x,y)
R.ÎR berlaku (a,c)ÎR dan (b,c)ÎRelasi
R bersifat transitif, jika untuk setiap (a,b)
Contoh
Diketahui A = { 1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R6 = {(1,1) , (1,2) , (2,2) ,
(2,1) , (3,3)}
Relasi R6 tersebut bersifat transitif.
Contoh
R7, tetÎ R7 dan (2,3) ÎRelasi R = {(1,1) , (1,2) , (2,2) ,
(2,3) , (3,3) , (3,2)} yang didefinisikan pada himpunan A = {1, 2, 3 } tidak bersifat transitif,
karena terdapat (1,2) R7.Ïapi (1,3)
R berlaku a = b.Î R dan (b,a) ÎRelasi R dikatakan bersifat
antisimetris jika untuk setiap (a,b)
Contoh
Î x kelipatan y , x,y |Pada himpunan
B = { 2, 4, 5 } didefinisikan relasi R8 = {
(x,y)
Dengan demikian R8 = {(2,2),(4,4),(5,5),(4,2)}. Relasi R8
tersebut bersifat antisimetris.
Contoh
Diketahui A = { 1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R9 = { (1,1) , (1,2) , (2,2) ,
(2,1) , (3,3) }
2.¹ R9, tetapi 1 ÎR9 dan (2,1) ÎRelasi R9 tersebut tidak bersifat
antisimetris karena terdapat (1,2)
RELASI EKIVALEN
Relasi R disebut sebagai sebuah relasi ekivalen jika relasi
tersebut bersifat refleksif, simetris dan transitif.
Contoh
Diketahui A = {
1, 2, 3 }.
Pada A didefinisikan relasi R1 = { (1,1) , (1,2) , (2,2) ,
(2,1) , (3,3) }
arena itu relasi R1 merupakan relasi ekivalen.
Contoh
Maka R2 = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) }.Î x kelipatan y , x, y |
Diketahui B = { 2, 4,
5 }. Pada B didefinisikan relasi R2 = { (x,y)
Relasi R2 tersebut tidak bersifat simetris, oleh karena itu
relasi tersebut bukan relasi ekuivalen.
7.7. Partisi
Relasi Pengurutan Sebagian (PARTIAL ORDERING).
Relasi R disebut sebagai sebuah relasi pengurutan sebagian
(partial ordering), jika relasi tersebut bersifat refleksif, transitif dan
antisimetris.
Contoh
Diketahui A = { 1, 2, 3 }. Pada A didefinisikan relasi
R3 = {
(1,1) , (1,2) , (2,2) , (2,1) , (3,3) }. Relasi R3 tersebut bersifat refleksif
dan transitif, tetapi tidak bersifat antisimetris. Oleh karena itu relasi
tersebut bukan merupakan relasi pengurutan sebagian.
Contoh
maka R4 = { (2,2) , (4,4) , (5,5) , (4,2) }.Î x kelipatan y , x,y |
Diketahui B = { 2, 4, 5 }. Pada B didefinisikan relasi R4 =
{ (x,y)
Relasi R4 tersebut bersifat refleksif, antisimetris dan
transitif. Oleh karena itu relasi tersebut merupakan relasi pengurutan
sebagian.
Daftar Pustaka:
Pardede, C. 2003. Lecture Notes Logika Matematika.Universitas
Gunadarma. Depok.
Suryadi, H.S. 1991. Aljabar, Logika dan Himpunan, seri
diktat kuliah Gunadarma. Depok.
http://aenifarida.wordpress.com diakses Jumat 9 Mei
2014 pukul 17.00.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar