BAB 5
PERKEMBANGBIAKAN SEKSUAL & ASEKSUAL
3.2. Perkembangbiakan
secara Seksual dan Aseksual
1. Reproduksi
Seksual & Aseksual
Reproduksi merupakan
suatu proses biologis di mana
individu organisme baru
diproduksi. Reproduksi terbagi menjadi 2, yaitu
reproduksi secara seksual dan reproduksi secara aseksual.
1.1 Reproduksi Seksual ( Generatif )
Reproduksi biologis atau reproduksi
seksual dalah suatu proses biologis penggunaan seks secara rutin dimana
individu organisme baru diproduksi.
Reproduksi adalah cara dasar
mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu
organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya.
Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.
Dalam reproduksi aseksual, suatu
individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari
spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh
dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi
kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk
melakukan reproduksi aseksual.
Reproduksi seksual membutuhkan
keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi
manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme
yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme
yang lebih sederhana, biasanya satu sel, bereproduksi secara aseksual.
Pada reproduksi seksual/generatif
terjadi persatuan dua macam gamet dari dua individu yang berbeda jenis
kelaminnya, sehingga terjadi percampuran materi genetik yang memungkinkan
terbentuknya individu baru dengan sifat baru.
Pada organisme tingkat tinggi
mempunyai dua macam gamet, gamet jantan atau spermatozoa dan gamet betina atau
sel telur, kedua macam gamet tersebut dapat dibedakan baik dari bentuk, ukuran
dan kelakuannya, kondisi gamet yang demikian disebut heterogamet.
Peleburan dua macam gamet tersebut
disebut singami. Peristiwa singami didahului dengan peristiwa fertilisasi
(pembuahan) yaitu pertemuan sperma dengan sel telur.
Pada organiseme sederhana tidak
dapat dibedakan gamet jantan dan gamet betina karena keduanya sama, dan disebut
isogamet. Bila salah satu lebih besar dari lainnya disebut anisogamet.
1.2 Reproduksi Aseksual ( Vegetatif )
Reproduksi Vegetatif adalah cara
reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin
jantan dan betina). Reproduksi Vegetatif bisa terjadi secara alami maupun
buatan.
1.2.1 Vegetatif Alami
Vegetatif Alami adalah reproduksi
aseksual yang terjadi tanpa campur tangan pihak lain seperti manusia.
Pada tumbuhan
·
Umbi batang. Contoh: ubi jalar, kentang.
·
Umbi lapis. Contoh: bawang merah, bawang putih.
·
Umbi akar. Contoh: wortel, singkong.
·
Geragih atau stolon. Contoh: arbei, stroberi.
·
Rizoma. Contoh: lengkuas, jahe.
·
Tunas. Contoh: kelapa.
·
Tunas adventif. Contoh: cocor bebek.
Pada hewan
·
Tunas. Contoh: Hydra, Ubur-ubur, Porifera.
·
Fragmentasi. Contoh:
Planaria, mawar laut.
·
Membelah diri. Contoh: Amoeba.
·
Parthenogenesis. Contoh: serangga seperti lebah, kutu
daun.
1.2.2 Vegetatif Buatan
Vegetatif Buatan adalah reproduksi
aseksual yang terjadi karena bantuan pihak lain seperti manusia. Stek, Cangkok, Okulasi, Enten, Merunduk, Kloning.
Individu baru (keturunannya) yang
terbentuk mempunyai ciri dan sifat yang sama dengan induknya. Individu-individu
sejenis yang terbentuk secara reproduksi aseksual dikatakan termasuk dalam satu
klon, sehingga anggota dari satu klon mempunyai susunan genetik yang sama.
Reproduksi aseksual dapat dibagi atas lima jenis,
yaitu :
1. Fisi
Fisi terjadi pada organisme bersel
satu. Pada proses fisi individu terbelah menjadi dua bagian yang sama.
Contoh :
·
Pada pembelahan sel bakteri.
·
Pada Plasmodum, reproduksi dengan fisi berganda, yaitu
inti sel membelah berulang kali dan kemudian setiap anak inti dikelilingi
sitoplasma. Proses ini disebut skizogoni, sel yang mengalami skizogoni disebut
skizon.
2. Pembentukan spora
Dibentuk di
dalam tubuh induknya dengan cara pembelahan sel. Bila kondisi lingkungan baik,
maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru, spora dihasilkan
oleh jamur, lumut, paku, sporozoa (salah satu kelas protozoa) dan kadang-kadang
juga dihasilkan oleh bakteri.
3. Pembentukan tunas
Organisme
tertentu dapat membentuk tunas, berupa tonjolan kecil yang akan berkembang dan
kemudian mempunyai bentuk seperti induknya dengan ukuran kecil. Kemudian tunas
ini akan lepas dari induknya dan dapat hidup sebagai individu baru. Pembentukan
tunas merupakan ciri khas sel ragi dan Hydra (sejenis Coelenterata).
4. Fragmentasi
Kadang-kadang
satu organisme patah menjadi dua bagian atau lebih, kemudian setiap bagian akan
tumbuh menjadi individu baru yang sama seperti induknya. Peristiwa fragmentasi
bergantung pada kemampuan regenerasi yaitu kemampuan memperbaiki jaringan atau
organ yang telah hilang. Fragmentasi terjadi antara lain pada hewan spons
(Porifera), cacing pipih, algae berbentuk benang.
5. Propagasi vegetatif
Istilah
propagasi vegetatif diberikan untuk reproduksi vegetatif/tumbuhan berbiji. Pada
proses propagasi bila bagian tubuh tanaman terpisah maka bagian tersebut akan
berkembang menjadi satu/lebih tanaman baru. Propagasi vegetatif alamiah dapat
terjadi dengan menggunakan organ-organ sebagai berikut :
a. Stolon
Stolon
adalah batang yang menjalar di atas tanah. Di sepanjang stolon dapat tumbuh
tunas adventisia (liar), dan masing-masing tunas ini dapat menjadi anakan
tanaman. Contoh: pada rumput teki, rumput gajah dan strawberi.
b. Akar tinggal
atau rizom
Rizom adalah
batang yang menjalar di bawah tanah, dapat berumbi untuk menyimpan makanan
maupun tak berumbi. Ciri rizom adalah adanya daun yang mirip sisik, tunas, ruas
dan antar ruas. Rizom terdapat pada bambu, dahlia, bunga iris, beberapa jenis
rumput, kunyit, lengkuas, jahe dan kencur.
c. Tunas yang tumbuh
di sekitar pangkal batang
Tunas ini
membentuk numpun, misalnya: pohon pisang, pohon pinang dan pohon bambu.
d. Tunas liar
Tunas liar
terjadi pada tumbuhan yang daunnya memiliki bagian meristem yang dapat
menyebabkan terbentuknya tunas-tunas baru di pinggir daun. Contoh: tunas cocor
bebek (Kalanchoe pinnata) dan begonia.
e. Umbi lapis
Umbi lapis
adalah batang pendek yang berada di bawah tanah. Umbi lapis diselubungi oleh
sisik-sisik yang mirip kertas. Contoh: tumbuhan lili, tulip dan bawang.
f. Umbi batang
Umbi batang
adalah batang yang tumbuh di bawah tanah, digunakan sebagai tempat penyimpanan
cadangan makanan sehingga bentuknya membesar. Pada umbi terdapat mata tunas –
mata tunas yang akan berkembang menjadi tanaman baru.
Contoh:
kentang dan Caladium.
Masing - masing dari cara reproduksi
tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari reproduksi secara
seksual, yaitu adanya komunikasi dalam proses reproduksinya itu sendiri, adanya
bantuan dari pasangan dalam membentuk keturunannya hingga mendidik anaknya
berdua. Itu yang terjadi pada manusia. Tidak seperti halnya pada tumbuhan yang
tidak bisa melakukan hal serupa. Adapun kelemahan dari reproduksi secara
seksual, yaitu keterkaitan yang erat antara 2 individu yang hendak bereproduksi
ini dengan calon keturunannya ( faktor genetik ). Biasanya kekurangan yang
terdapat pada orangtua, dapat terjadi dan diturunkan kepada anaknya. Misalnya
si ibu kondisinya sehat jasmani dan rohani, namun si ayah mempunyai satu
penyakit atau misalnya cacat fisik. Ada kemungkinan kekurangan yang terdapat
pada ayahnya ini menurun kepada anaknya. Menurut saya itulah kelemahannya.
Kemudian pada reproduksi secara aseksual dapat kita simpulkan sebagai kebalikan
dari reproduksi seksual.
Kita
mengenal tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis
(pembelahan reduksi). Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri
secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini
banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri,
ganggang biru.
Mitosis adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang
teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke
tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinarnakan Interfase
(tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel
melakukan sintesis bahan-bahan inti.
2. Pembelahan Mitosis
Pembelahan mitosis menghasilkan sel
anakan yang jumlah kromosomnya sama dengan jumlah kromosom sel induknya,
pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh).
Sel – sel tersebut juga memiliki
kemampuan yang berbeda – beda dalam melakukan pembelahannya, ada sel – sel yang
mampu melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang
tidak mengalami pembelahan sama sekalisetelah melewati masa pertumbuhan
tertentu, misalnya sel – sel germinatikum kulit mampu melakukan pembelahan yang
sangat cepat untuk menggantikan sel – sel kulit yang rusak atau mati. Akan
tetapi sel – sel yang ada pada organ hati melakukan pembelahan dalam waktu
tahunan, atau sel – sel saraf pada jaringan saraf yang sama sekali tidak tidak
mampu melakukan pembelahan setelah usia tertentu. Sementara itu beberapa jenis
bakteri mampu melakukan pembelahan hanya dalam hitungan jam, sehingga haya
dalam waktu beberapa jam saja dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan sel
bakteri. Sama dnegan bakteri, protozoa bersel tunggal mampu melakukan
pembelahan hanya dalam waktu singkat, misalkan amoeba, paramecium, didinium,
dan euglena.
Pada sel – sel organisme
multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap – tahap tertentu yang
disebut siklus sel. Sel – sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki
siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase(tahap )
utama, yaitu interfase dan mitosis. Interfase terdiri atas 3 fase yaitu fase G,
( growth atau gap), fase S (synthesis), fase G2(growth atau Gap2).
Pembelahan mitosis dibedakan atas
dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses
pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase,
dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada
dua sel anak hasil pembelahan.
2.1 Kariokinesis
Kariokinesis
selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya.
Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti
berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro
tubulus dan sentriol. Cirri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:
a) Profase
Ø Benang–benang
kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom
membelah menjadi kromatid dengan satu sentromer.
Ø Dinding
inti (nucleus) dan anak inti (nucleolus) menghilang.
Ø Pasangan
sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub yang
berlawanan.
Ø Serat–serat
gelendong atau benang–benang spindle terbentuk diantara kedua kutub pembelahan.
b) Metafase
Ø Setiap
kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul
pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong
melalui sentromer atau kinetokor.
c) Anaphase
Ø Sentromer
dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu
kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju
kekutub yang berlawanan. Pada akhir nanfase, semua kroatida sampai pada kutub
masing – masing.
d) Telofase
Pada telofase terjadi peristiwa
berikut:
1. Kromatida
yang berada jpada kutub berubah menjasadi benang – benangkromatin kembali.
2. Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk
dua inti baru.
3. Serat –
serat gelendong menghilang.
4. Terjadi
pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane
sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya , terbentuk dua sel anak yang
mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.
Hasil
mitosis:
1. Satu Sel
induk yang diploid (2n) menjadi 2 sel anakan yang masing – masing diploid.
2. Jumlah
kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya.
2.2 Sitokinesis
Selama sitokinesis berlangsung,
sitoplasma sel hewan dibagi menjadi dua melalui terbentuknya cincin kontraktil
yang terbentuk oleh aktin dan miosin pada bagian tengah sel. Cincin kontraktil
ini menyebabkan terbentuknya alur pembelahan yang akhirnya akan menghasilkan
dua sel anak. Masing – masing sel anak yang terbentuk ini mengandung inti sel,
beserta organel – organel selnya. Pada tumbuhan, sitokinesis ditandai dengan
terbentuknya dinding pemisah ditengah – tengah sel. Tahap sitokinesis ini
biasanya dimasukkan dalam tahap telofase.
Keterangan:
(a) Sitokinesis pada hewan
(a) Sitokinesis pada hewan
(b) Sitokinesis pada tumbuhan
3. Pembelahan Meiosis
Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah
reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi
dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.
Meiosis terbagi menjadi due tahap
besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II Baik meiosis I maupun meiosis II terbagi
lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap
pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :
Berbeda dengan pembelahan mitosis,
pada pembelahan meiosis antara telofase I dengan profase II tidak terdapat fase
istirahat (interface). Setelah selesai telofase II dan akan dilanjutkan ke
profase I barulah terdapat fase istirahat atau interface.
1. Interfase I
Meiosis didahului oleh interfase yang mana selama fase
ini setiap kromosom bereplikasi. Untuk setiap kromosom hasilnya adalah dua
kromatid saudara yang identik secara genetik yang tetap melekat pada
sentromernya. Pada fase ini sentrosom juga bereplikasi menjadi dua.
2. Meiosis I
a. Profase I
Kromosom mulai memadat. Kromosom homolog yang masing –
masing tersusun dari dua kromatid saudara berpasangan membentuk tetrad. Pada
banyak tempat di sepanjang tubuhnya, kromatid kromosom homolog saling menyilang
yang dinamakan kiasmata (tunggal, kiasma). Kiasmata berfungsi untuk mengikat
kromosom agar tetap bersama. Sementara itu, komponen seluler lainnya
mempersiapkan pembelahan nukleus, sentrosom bergerak saling menjauhi dan
gelendong mikrotubula terbentuk di antaranya. Selubung nukleus dan nukleoli
menyebar. Akhirnya gelendong mikrotubula menangkap kinetokor yang terbentuk
pada kromosom dan kromosom mulai bergerak ke pelat metafase.
b. Metafase I
Pasangan kromosom homolog tersusun pada pelat
metafase. Mikrotubula kinetokor dari satu kutub sel melekat pada satu kromosom
masing – masing pasangan, sementara itu mikrotubula dari kutub yang berlawanan
menempel pada homolognya.
c. Anafase I
Alat gelendong menggerakkan kromosom ke arah kutub.
Kromatid saudara tetap terikat pada sentromernya dan bergerak ke arah kutub
yang sama. Kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang berlawanan.
d. Telofase I dan Sitokinesis
Aparatus gelendong terus memisahkan pasangan kromosom
homolog sampai kromosom mencapai kutub sel. Setiap kutub mempunyai satu set
kromosom haploid tetapi setiap kromosom memiliki dua kromatid saudara. Biasanya
sitokinesis (pembelahan sitoplasma) terjadi secara simultan dengan telofase I,
membentuk dua sel anak.
3. Meiosis II
a. Profase II
Aparatus gelendong terbentuk dan kromosom berkembang
ke arah pelat metafase II.
b. Metafase II
Kromosom ditempatkan pada pelat metafase dengan cara
seperti mitosis, dengan kinetokor kromatid saudara dari masing – masing
kromosom menunjuk ke arah yang berlawanan.
c. Anafase II
Sentromer kromatid saudara berpisah dan kromatid
saudara dari masing – masing pasangan bergerak ke arah kutub sel yang
berlawanan.
d. Telofase II dan Sitokinesis
Nukles terbentuk pada kutub sel yang berlawanan dan
terjadi sitokinesis. Pada akhir sitokinesis terdapat 4 sel anak dengan kromosom
haploid.
sel gonad
Pada hewan dikenal adanya peristiwa
meiosis dalam pembentukan gamet, yaitu Oogenesis dan Spermatogenesis.
Sedangkan pada tumbahan dikenal Makrosporogenesis (Megasporogenesis) dan
Mikrosporogenesis.
3.1 Gametogenesis
Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet atau
sel kelamin. Sedangkan gamet adalah sel
reproduksi haploid (oosit atau spermatozoa) yang penyatuannya diperlukan dalam
reproduksi seksual untuk mengawali perkembangan individu baru. Sel gamet
terdiri dari gamet jantan (spermatozoa) yang dihasilkan di testis dan gamet betina
(ovum) yang dihasilkan di ovarium. Terdapat dua jenis proses pembelahan sel
yaitu mitosis dan meiosis. Mitosis yaitu pembelahan sel dari induk menjadi 2
anakan tetapi tidak terjadi reduksi kromosom, contoh apabila ada sel tubuh kita
yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses
pembelahan mitosis, sedangkan pembelahan meiosis yakni metode
khusus pembelahan sel, terjadi pada maturasi sel kelamin dengan cara setiap
inti sel anak menerima separuh jumlah sifat kromosom sel somatik spesiesnya, yaitu
pembelahan sel dari induk menjadi 2 anakan dengan adanya reduksi kromosom,
contohnya pembelahan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses
reproduksi manusia. Pada pembelahan mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya
sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46
kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat
haploid (n) yaitu 23 kromosom. Gametogenesis terdiri 4 tahap : perbanyakan,
pertumbuhan, pematangan dan perubahan bentuk. Gametogenesis ada dua yaitu
spermatogenesis dan oogenesis.
3.1.1 Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses
pembentukan sel spermatozoa (tunggal : spermatozoon) yang terjadi di organ
kelamin (gonad) jantan yaitu testis tepatnya di tubulus seminiferus dengan cara pembelahan meiosis dan mitosis. Setiap
testis terdiri atas tubulus seminiferus yang mampu menghasilkan miliaran
sperma. Dinding
tubulus seminiferus dilapisi oleh sel germinal (spermatogonium).
Spermatogenesis pada sperma biasa
terjadi diepididimis. Sedangkan tempat menyimpan sperma sementara terletak di vas deferens.
Spermatogenesis
berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Pada spermatogenesis terjadi
pembelahan secara mitosis dan meiosis. Spermatogenesis
mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan
diferensiasi sel. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase – fase pendewasaan
sperma di epididimis. Setiap satu spermatogonium akan
menghasilkan empat sperma matang. Pada manusia
spermatogenesis berlangsung lebih kurang 16 hari. Selama spermatogenesis,
sperma menerima bahan makanan dari sel – sel sertoli. Sel sertoli merupakan
tipe sel lainnya di dalam tubulus seminiferus.
Tahap – Tahap Spermatogenesis :
1. Spermatogonium
Merupakan tahap pertama
pada spermatogenesis yang dihasilkan oleh testis. Spermatogoium terbentuk dari 46kromosom dan 2n kromatid.
2. Spermatosit primer
Merupakan mitosis dari spermatogonium. Pada tahap ini tidak terjadi pembelahan. Spermatosit primer terbentuk
dari 46 kromosom dan 4n kromatid.
3. Spermatosit sekunder
Merupakan meiosis dari spermatosit primer. Pada tahap ini terjadi pembelahan
secara meiosis.
Spermatosit sekunder terbentuk dari 23 kromosom dan 1Nkromatid.
4. Spermatid
Merupakan meiosis dari spermatosit sekunder. Pada tahap
ini terjadi pembelahan secara meiosis yang
kedua. Spermatid terbentuk dari 23 kromosomdan 1N kromatid.
5. Sperma
Merupakan diferensiasi atau
pematangan dari spermatid. Pada tahap ini terjadidiferensiasi. Sperma
terbentuk dari 23 kromosom dan
1N kromatid dan merupakan tahap sperma
yang telah matang dan siap dikeluarkan. Keseluruhan
prosesspermatogenesis ini
menghabiskan waktu sekitar 64 hari.
Sruktur Spermatozoa
Bagian-bagian tersebut terbagi atas 3 bagian utama, yaitu :
1. Kepala
Pada bagian kepala spermatozoon ini, terdapat inti tebal dengan sedikit sitoplasma
yang diselubungi oleh selubung tebal dan terdapat 23 kromosom dari sel ayah.
Selubung tebal yang dimadsud adalah akrosom,
fungsinya adalah sebagai pelindung dan menghasilkan enzim.
2. Badan
Terdapat mitokondria yang berbentuk spiral dan
berukuran besar, berfungsi sebagai penyedia ATP atau energi untuk pergerakan
ekor.
3. Ekor
Pada bagian ekor sperma yang
cukup panjang terdapat Axial
Filament pada bagian dalam dan membrane plasma dibagian luar yang
berfungsi untuk pergerakan sperma.
Proses
spermatogenesis dipengaruhi
oleh beberapa hormon yaitu :
1. Hormon GnRH
Berfungsi untuk merangsang lobus anterior pituitary untuk
produksi hormongonadotropin FSH
(Follicle Stimulating Hormone)
dan LH (Luteinizing Hormone).
2. Testosterone
Hormon ini dihasilkan oleh sel – sel leydig yang terdapat diantara
tubulus seminiferus testis. Hormon ini bertanggung jawab terhadap pembelahan
sel – sel epitel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembentukan
spermatosit sekunder.
3. Hormon FSH (Follicle
Stimulating Hormone)
Berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung. Serta
merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis.
4. Hormon LH (Luteinizing
Hormone)
Berfungsi merangsang sel leydig untuk memperoleh sekresi testosterone (yaitu suatu
hormone sex yang penting untuk perkembangan sperma).
3.1.2 Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum)
di dalam ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel–sel
telur yang disebut oogenia (jamak
; oogonium ). Pembentukan
sel telur pada manusia sudah terjadi sebelum kelahiran, yaitu didalam ovary
fetus perempuan.
Oogenesis secara sederhana prosesnya dapat dijelaskan tahapannya sebagai berikut :
1. Oogonium yang merupakan prekursor
dari ovum tertutup
dalam folikel di ovarium.
2. Oogonium berubah menjadi oosit primer yang memiliki 46 kromosom. Oosit primer melakukan meiosis yang menghasilkan dua sel anak yang ukurannya tidak
sama.
3. Sel anak yang
lebih besar adalah oosit sekunder yang
bersifat haploid. Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang
lain karena berisi lebih banyak sitoplasma dari Oosit primer.
4. Sel anak yang
lebih kecil disebut badan polar pertama yang kemudian membelah lagi.
5. Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi. Apabila oosit sekunder difertilisasi,
maka akan mengalami pembelahan meiosis yang
kedua. begitu pula dengan badan polar pertama membelah menjadi dua badan polar
kedua yang akhirnya mengalami degenerasi. Namun apabila tidak terjadi
fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan terjadi dan siklus oogenesis diulang kembali.
6. Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat
haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid. Ketika inti nukleussperma dan ovum siap melebur menjadi satu,
saat itu juga ootid kemudian
mencapai perkembangan akhir atau finalnya menjadi ovum yang matang. Peristiwa pengeluaran sel telur dikenal
dengan istilah ovulasi.
Pada setiap ovulasi hanya
satu telur yang matang dan dapat hidup 24 jam. Jika ovum yang matang tersebut tidak
dibuahi, maka sel telur tersebut akan mati dan luruh bersama dengan dinding
rahim pada awal siklus menstruasi (Biohealth Indonesia, 2007).
Ovum memiliki beberapa lapisan
pelindung, antara lain :
Ø Membrane Vitellin yaitu
lapisan transparan dibagian dalam ovum.
Ø Zona Pellusida, yaitu lapisan pelindung ovum yang
tebal dan terletak dibagian tengah. Terdiri dari protein dan mengandung
reseptor untuk spermatozoa.
Ø Korona Radiata, yaitu merupakan sel-sel granulose yang melekat
disisi luar oositdan
merupakan mantel terluar ovum yang
paling tebal
Secara
morfologi dan anatomi, terdapat bermacam – macam ovum. Ovum biasanya dibedakan berdasarkan
atas jumlah yolk atau deutoplasmanya yaitu :
1. Alecithal, telur tipe
ini tidak mempunyai deutoplasma, akan tetapi telur yang seperti ini hampir
tidak ada karena untuk pertumbuhan embrio selalu membutuhkan makanan.
2. Isolecithal
(homolecithal, ovum tipe ini hanya mengandung sedikit deutoplasma yang tersebar merata
diseluruh ovum, misalnya ovum mamalia tingkat tinggi dan invertebrate.
3. Telolecithal, ovum tipe
ini biasanya memiliki deutoplasma yang cukup banyak dan terdapat pada bagian
kutub vegetal, misalnya ovum ikan dan unggas.
4. Sentrolecithal, pada ovum
tipe ini deutoplasmanya terdapat di tengah – tengah ovum, misalnya ovum
insekta.
Ovum yang
deutoplasmanya sangat banyak pada aves dan reptilian sering juga dinamakan ovum
yang bertipe megalicithal atau polylecithal. Kemudian selaput –
selaput pada telur dapat digolongkan dalam tiga macam antara lain :
1. Membran
primer, yang
merupakan hasil/produk daripada ovum itu sendiri. Membran ini terdiri
dari membran plasma dan membran vitellinus pada saat terjadi fertilisasi membran vitellinus ini akan terbagi dan membentuk membran ketiga
yang disebut membran fertilisasi. Pada kebanyakan telur –
telur hewan laut yang bertipe homolecithal biasanya
ada lapisan tambahan berupa jelly (lapisan tak hidup) diluar membran vitellinus. Pada cacing pasir (Nereis) dilindungi oleh benang – benang halus protoplasma.
2. Membran
sekunder, selaput
ini merupakan hasil/produk dari sel – sel folikel yang mengelilingi ovum selama
periode pemasakan ovum. Membran ini biasanya bersifat impermeable seperti
contohnya pada chorion dari
telur insekta dan juga pada telur cyclostomata (myxine). Untuk memudahkan penetrasi
sperma, membran sekunder ini dilengkapi dengan satu atau lebih lubang kecil
yang disebut micropyle.
3. Membran
tersier, membran
ini merupakan hasil/produk dari oviduct, uterus dan kelenjar – kelenjar
tambahan. Membran tersier ini sangat beragam bentuk dan keberadaanya. Sebagai
contoh telur ayam memiliki tiga macam membran tersier yaitu:
a. lapisan albumin
b. membran cangkang (shell membran)
c. cangkang dari zat kapur (calcareous shell)
Proses oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :
1. FSH (Follicle Stimulating Hormone
Berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel – sel folikel sekitar sel ovum.
2. LH (Luteinizing Hormone)
Berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan
sel ovum).
3. Estrogen
Dihasilkan oleh folikel graff dan dirangsang oleh FSH di dalam ovarium.Estrogen berfungsi menimbulkan sifat kelamin sekunder.
4. Progesteron
Dihasilkan juga oleh korpus luteum yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH
dan LH. Hormon progesteron berfungsi
juga untuk menebalkan dindingendometrium.
Daftar Pustaka:
https://www.academia.edu/5502977/Reproduksi_Seksual
Tidak ada komentar:
Posting Komentar