Senin, 10 Oktober 2016

Psikologi dan Internet (Tugas 2)



PTI  dalam Lingkup Intrapersonal 2

Internet Addiction
Salah satu dampak negatif dari penggunaan intenet adalah kecanduan intenet atau Intenet Addiction. Internet addiction adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol penggunaan internetnya, yang dapat menyebabkan terjadinya masalah psikologis, social dan pekerjaan pada kehidupan seseorang. Pada awalnya pengertian addiction hanya ditunjukan pada kasus penyalahgunaan obat-obatan (eg. Walker 1989), seperti definisi yang diungkapkan oleh American Psychiatric Association’s diagnostic and Statistic Manual of Mental disorders Definisi addiction sebagai aktifitas kompulsif yang tidak terkendali tanpa memperdulikan konsekuensi negatif yang merupakan akibatnya. Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting dan lain-lain. Jenis gangguan ini memang tidak tercantum pada manual diagnostik dan statistik gangguan mental, atau yang biasa disebut dengan DSM, namun secara bentuk dikatakan dekat dengan bentuk kecanduan akibat judi, selain itu badan himpunan psikolog di Amerika Serikat secara formal menyebutkan bahwa kecanduan ini termasuk dalam salah satu bentuk gangguan.
Riset menemukan bahwa beberapa organisasi mengalami dampak negatif sebagai akibat dari kecanduan akan games off-line (seperti Solitaire dan Tetris yang populer di dekade 1980-an lalu), yang memang rata-rata banyak di-install dalam komputer. Untuk saat ini ada pula games online seperti ayo dance, poker, the sims dan lain-lain yang sangat disukai banyak orang. Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan di Singapura, sekitar 520.000 pelajar SMP dan SMA mengalami kecanduan internet, terutama untuk game online dan e-mail. Survei menunjukkan bahwa 9 persen dari pelajar SMP dan 14 persen dari pelajar SMA mengakses internet lebih dari lima jam setiap hari kerja.


Jenis-jenis internet addiction
Dapat digolongkan menjadi 2 yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Kategori yang dikembangkan oleh Young (1999) didasarkan atas jenis aktivitas yang dilakukan para pengguna internet. Young membagi kecanduan internet ke dalam lima kategori, yaitu :
a) Cybersexual addiction, yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs – situs porno atau cybersex secara kompulsif
b) Cyber-relationship addiction, yaitu seseorang yang henyut dalam pertemanan melalui dunia cyber
c)  Net compulsion, yaitu seseorang yang terobsesi pada situs – situs perdagangan (cyber shopping atau day trading) atau perjudian (cyber casino)
d)  Information overload, yaitu seseorang yang menelusuri situ –situs informasi secara komplusif
e)  Computer addiction, yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan – permainan online (online games).
Kecenderungan internet addiction disorder adalah kecondongan penggunaan intenet secara patalogis dan kompulsif, yang muncul pada orang yang merasa bahwa dunia maya (virtual reality) pada layar komputernya lebih menarik dari pada dunia kenyataan hidupnya sehari-hari. Kecenderungan internat addiction disorder diukur menggunakan skala kecenderungan internet addiction disorder, yang di susun berdasarkan kriteria diagnostic internet addiction disorder dari Goldberg.
Kecanduan internet disebut sebagai ketergantungan internet dan internet compulsivity. Pecandu internet menjadikan internet sebagai prioritas utama di bandingkan keluarga, teman dan pekerjaan. Menurut Balle ada beberapa penyebab seseorang kecanduan internet diantaranya adalah Stress, Compulsion (paksaan), Loneliness (kesendirian) dan Social Disorder (gangguan social).
Menurut Young (1999), ada aspek – aspek seseorang kecanduan internet diantaranya adalah :
a) Merasa sibuk dengan internet (berpikir tentang aktivitas online sebelumnya atau mengantisipasi sesi online berikutnya)
b) Merasa membutuhkan menggunakan internet dengan meningkatkan jumlah waktu untuk mencapai kepuasan
c)  Berulang kali melakukan upaya untuk mengontrol, mengurangi atau menghentikan penggunaan internet namun selalu gagal
d) Merasa gelisah, murung, depresi atau marah ketika mencoba untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan internet
e) Online lebih lama dari pada yang direncanakan
f)  Berani mengambil resiko kehilangan karena internet
g)  Berbohong kepada anggota keluarga , dll
Davis menyebutkan ada beberapa jenis fasilitas pada internet yang dapat memicu terjadinya kecanduan. Davis menyebutkan dua jenis kecanduan internet yaitu :
           1)        Kecanduan internet spesifik (specific pathological internet use)
Untuk menggambarkan seseorang yang kecanduan hanya pada satu macam fasilitas yang ditawarkan oleh internet
2)   Kecanduan internet umum (generalized pathological internet use)
Untuk menggambarkan seseorang yang kecanduan semua fasilitas yang ditawarkan oleh internet secara keseluruhan.

Kriteria-Kriteria Internet Addiction
Kriteria untuk mengetahui seseorang telah mengalami adiksi terhadap internet diadaptasi dari kriteria-kriteria ketergantungan zat seperti disebutkan di dalam DSM-IV, yaitu :
      a.       Toleransi, yang ditunjukkan dalam perilaku sebagai berikut :
• Kebutuhan meningkatkan waktu penggunaan internet untuk mendapatkan kepuasan dan  mengurangi efek keinginan terus-menerus memakai internet  
• Secara nyata mengurangi efek keinginan tersebut dengan melanjutkan pemakaian internet dengan waktu yang sama terus menerus  
      b.      Withdrawal, yang termanifestasikan ke dalam salah satu ciri-ciri berikut :  
• Kesulitan untuk menghentikan atau mengurangi pemakaian internet, agitasi psikomotor, kecemasan, secara obsesif memikirkan tentang apa yang sedang terjadi di internet, fantasi atau mimpi tentang internet, sengaja atau tidak sengaja menggerakkan jari-jari seperti gerakan sedang mengetik dengan komputer.
• Pemakaian internet atau layanan online yang mirip untuk melepaskan diri atau menghindarkan diri dari simptom-simptom withdrawal.
    c. Sering menghabiskan waktu mengakses internet lebih lama dari yang direncanakan (kehilangan   orientasi waktu).  
d. Gagal mewujudkan keinginan untuk mengurangi atau mengontrol pemakaian internet.                  
e. Menghabiskan banyak waktu dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internet (misalnya membeli buku-buku tentang internet, mencoba-coba browser WWW baru, dan mengatur material-material hasil dari download).                                                                   f. Terganggunya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keluarga, lingkungan, pekerjaan akibat pemakaian internet.                                                                                    g. Tetap menggunakan internet secara berlebihan meskipun sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak-dampak negatif dari pemakaian internet secara berlebihan.

Zsolt Demetrovics, et. al. (2008) mengembangkan kuisioner mengenai internet addiction yang disebut PIUQ (Problematic Internet Use Questionnaire). Faktor-faktor internet dalam kuisioner tersebut terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu:
a. Keterikatan mental dengan internet
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain melamun, sering berfantasi tentang internet, menunggu kesempatan untuk ber-online lagi, di sisi lain:, kecemasan, kekhawatiran, dan depresi karena kurangnya pemakaian internet.
b. Pengabaian aktivitas sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan dasar
Faktor ini adalah mengenai berkurangnya tingkat kepentingan urusan rumah tangga, pekerjaan, belajar, makan, hubungan sesama, dan aktivitas-aktivitas lain serta pengabaian aktivitas-aktivitas tersebut akibat peningkatan frekuensi pemakaian internet.
c. Kesulitan dalam mengontrol pemakaian internet
Yang termasuk dalam kategori ini adalah pemakaian internet yang lebih sering dan lebih lama dari yang sebelumnya direncanakan, disamping ketidakmampuan untuk mengurangi jumlah pemakaian internet. 

Fenomena internet addiction yang ada pada saat ini
Fenomena yang belakangan ini terjadi bisa berdampak buruk bagi diri orang tersebut. Biasanya orang – orang tidak menyadari bahwa ia sudah kecanduan dengan internet karena masih sedikit sekali yang memahami tentang apa itu internet addiction atau kecanduan internet.  
Kandell (1998) menyebutkan bahwa jika di bnadingkan dengan kelompok usia lainnya, internet addiction adalah masalah terbesar bagi mahasiswa. Jauh dari keluarga, menghabiskan waktu luang, dan menggunakan internet dengan educational reason adalah beberapa alasan meningkatkannya resiko internet addiction pada mahasiswa. Salah satu faktor terpenting yang dapat menjelaskan mahasiswa menggunakan internet secara berlebihan adalah dinamika psikologis dan perkembangan mahasiswa itu sendiri yang sedang berada pada transisi dari tahap remaja akhir menuju dewasa awal (Kandell, 1998).
Masa emerging adulthood adalah masa transisi dari masa remaja akhir menuju dewasa awal yang memiliki karakterristik antara lain eksplorasi jati diri, ketidakstabilan, fokus pada diri sendiri, ambiguitas, serta terdapat berbagai kemungkinan untuk melakukan eksplorasi dan eksperimen (Arnettt, 2000).
Ketika individu berada pada masa emerging adulthood, individu berada pada kondisi tidak stabil karena banyak mengadopsi pengalaman dan pengetahuan dari lingkungannya. Pada masa ini biasanya mendorong untuk mencari jati dirinya sehingga dapat memunculkan keinginan untuk menggunakan internet sampai berlebihan.  Sebaiknya saat kita menggunakan internet kita dapat mengontrol diri kita dan membatasinya sehingga kita tidak akan kecanduan akan internet karena sesuatu yang berlebihan akan tidak baik.

Faktor-faktor Etiologi
Etiologi adalah membahas tentang penyebab, dan faktor-faktor etiologi adalah faktor-faktor penyebab bagi pengguna internet yang kecanduan. Namun itu tidak terjadi secara begitu saja, melainkan ada sebab-sebab yang menyertainya, karena suatu perilaku kecanduan terjadi oleh periode waktu-waktu tertentu sebagai hasil interaksisosial dan adanya perilaku menyimpang. Berikut adalah beberapa perilaku menyimpang :

 Cognitive-Behavioral Model
Cognitive-Behavioral adalah emosional, fisiologis, dan perilaku respon individu sebagai dimediasi oleh persepsi mereka tentang pengalaman, yang dipengaruhi oleh keyakinan mereka dengan cara karakteristik mereka berinteraksi dengan dunia, serta oleh pengalaman sendiri.
Young menyatakan kecanduan teknologi sebagai bagian dari kecanduan perilaku seseorang. Kecanduan internet menampilkan komponen inti dari kecanduan (kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik dan kambuh). Dari perspektif ini, si pecandu menganggap internet sebagai suatu hal yang penting bagi hidupnya, dia juga merasa lebih relax saat berhubungan dengan orang lain melalui dunia maya dan dihinggapi perasaan cemas berlebih saat  internet offline. Menurut Davis si pecandu mengalami depresi sehingga ia hanya bisa meluapkannya melalui penggunaan internet yang berlebih, mengembangkan sikap toleransi pada internet karena dia menggunakan internet untuk mencapai suatu kepuasan, mengalami penarikan diri dari lingkungan sosial, mengalami penderitaan saat terjadinya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan sering online juga adalah tanda-tanda dari kecanduan. Model ini telah diterapkan pada orang yang mengalami gangguan perilaku seksual, konsumsi makanan, dan perjudian via online. 
Cognitive-behavioral Model adalah suatu terapi yang digunakan oleh para psikolog terhadap si pecandu. Terapi ini cukup efektif untuk menyembuhkan kasus kecanduan judi online dan penyalah gunaan zat. Jadi, si pecandu dilatih untuk memantau pikiran dan mengidentifikasikan afektif mereka. Pemicu situasi lalu dihubungkan dengan perilaku mereka saat menggunakan internet. Mereka dilatih untuk mengontrol keseringan online dan menghidupkan segala aktivitas saat offline dari internet. Aktivitas kehidupan yang tidak melibatkan internet dapat mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas kehidupan offline mereka. Walau demikian memang tidak bisa dipungkiri bahwa komputer dan internet kini tidak bisa terpisahkan dari kegiatan sehari-hari manusia. Oleh karena itu harus ada kesepakatan dalam mengontrol penggunaannya agar tidak sampai menimbulkan rasa kecanduan. 

      Neuropsychological
Neuropsychology adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi otak yang berkaitan dengan suatu perilaku yang terjadi pada individu
Neuropsychology ialah suatu kemunduran perilaku akibat adanya kerusakan otak. Dan neuropsychological model ialah seorang individu akan diklasifikasikan sebagai pecandu internet jika ia memenuhi dari 3 kondisi berikut, (1) ia akan merasa akan lebih mudah mencapai aktualisasi diri secara online daripada di kehidupan nyata, (2) merasakan pengalaman dysporia dan depresi setiap kali akses ke internet yang rusak atau mengalami gangguan dan yang (3) ialah orang tersebut akan mencoba secara diam-diam menggunakan internet dari anggota keluarga atau sekitarnya.
Jadi bisa kita telaah dari berbagai pengertian yang telah dijelaskan diatas. Inti dari pembahasan kali ini ialah adanya dampak negatif dalam penggunaan internet berdasarkan faktor etiologi atau faktor penyebab dengan neuropsychological model. Dimana yang menjadi penyebab disini ialah karena sudah terbiasa menggunakan internet untuk apapun / kebiasaan, sehingga si pengguna tidak bisa lepas dari internet. Dan akhirnya mengakibatkan si pengguna mengalami perubahan perilaku dari yang selalu berinteraksi dengan orang sekitar secara nyata menjadi hanya mau berinteraksi dengan orang-orang di dunia maya. Atau menjadi tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar karena sudah terlalu asyik dengan dunianya sendiri di dalam internet, apabila orang tersebut sudah mengalami kecanduan internet yang sangat parah.
Contoh-contoh akibat tersebut timbul tidaklah lain karena hanya asyik menggunakan internet saja. Melainkan dari kebiasaannya tersebut akhirnya didalam otak / syarafnya mengalami gangguan atau kerusakan. Dari kebiasaan tersebut, maka otak dan syarafnya hanya dapat terfokus pada hal-hal internet saja. Tidak ada yang hal-hal lain yang dapat dipikirkan oleh otaknya, jika orang tersebut benar-benar mengalami kecanduan level atas.
Itulah sekilas mengenai dampak negatif penggunaan internet berdasarkan faktor etiologi dengan neuropsychological model. Sang pengguna bisa menjadi anti sosial (ansos) karena sudah terlalu asyik dan nyaman dengan internetnya, menjadi tidak peduli akan lingkungan sekitarnya yang nyata, ataupun menjadi pendiam / tertutup di dunia nyata tapi aktif dan selalu bersuara di dunia maya. Dan masih banyak lagi dampak-dampak lainnya yang tidak bisa dijelaskan satu per satu.

Daftar Pustaka:
Dewiratri, Tiarania. Karini Suci Murti and Machmuroch. (2014). Hubungan antara kecanduan internet dan depresi pada mahasiswa pengguna warnet di kelurahan jebres Surakarta. Jurnal studi psikologi. 3,(2),75-84
Mukodim, Didin. Ritandiyono. & Sita, Harumi Ratna. (2004). Peranan kesepian dan kecenderungan internet addiction disorder terhadap prestasi belajar mahasiswa universitas gunadarma.
Putri, Novrita Ade. (2013). Subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan. Jurnal ilmiah mahasiswa universitas Surabaya. 2,(1), 1-16
Soetjipto, Helly P. (2005). Pengujian validasi konstruk kriteria kecanduan internet. Jurnal Psikologi, 32,(2),74-91
Winatha, Regina Giovanna. (2014). Pengaruh sifat materialism dan kecanduan internet terhadap perilaku pembelian impulsive secara online. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 3,(3),751-769
http://anisarahmahanifa.blogspot.co.id/2014/11/fenomena-addictionyang-terjadi-sebagai.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar